Rabu, 28 September 2011

DICARI: Peserta Angkatan Kata AntarBenua

Komunitas menulis Museum Konperensi Asia-Afrika, Angkatan Kata AntarBenua (AKAB), akan membuka kelas menulis pertamanya. Kelas ini bertujuan mengajak para peserta mengenali tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah Indonesia dan dunia, serta mengenal negara-negara di kawasan Asia-Afrika yang selama ini terkesan misterius karena kurangnya akses mereka terhadap pengendalian arus informasi. Berikut intisari kegiatan:

PERTEMUAN I: “SOSOK DALAM FOTO”
Pengenalan Museum Konperensi Asia-Afrika, dan menulis tentang tokoh sejarah berdasarkan foto-foto mereka.

PERTEMUAN II: “LISAN >< TULISAN”
Kebanyakan orang merasa lebih mudah mengungkapkan perasaannya melalui lisan daripada tulisan. Konon hal itu karena kita lebih banyak memiliki kesempatan bicara daripada kesempatan menulis. Jika kita menulis sesering kita berbicara, tentu kita dapat lebih mudah menyampaikan maksud melalui tulisan. Seringkali kata-kata yang terucap gagal menyampaikan isi benak kita. Di sisi lain, ungkapan melalui tulisan memberi waktu ekstra untuk memikirkan, “Apa kiranya kata yang paling tepat untuk melukiskan perasaanku saat ini?”

PERTEMUAN III: “SEANDAINYA U NU HIDUP HARI INI”
Saat SMA dulu, sejarah merupakan pelajaran membosankan karena—harus diakui—sulit menemukan relevansi antara Megantropus Paleojavanicus dengan jawaban mengapa si A tidak membalas SMS-ku? Latihan menulis kali ini bertujuan membangun jembatan yang mempertemukan kehidupan tokoh sejarah dengan keseharian yang saat ini dijalani masing-masing peserta.

PERTEMUAN IV: “A DAY IN THE LIFE”
Seringkali, sejarah dipandang sebagai ilmu pasti. Apapun yang tertulis di dalam buku sejarah dianggap sebagai kebenaran. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Setiap orang memiliki persepsinya masing-masing sekalipun mereka melalui sebuah peristiwa yang sama. Latihan menulis pada minggu ketiga mengajak peserta untuk menceritakan kembali sejarah tokoh dunia menurut versi masing-masing.

PERTEMUAN V: “V UNTUK VAKANSI”
Biasanya liputan perjalanan di media massa mudah ditebak: berisikan cuplikan sejarah, foto-foto spektakuler, serta penjelasan tentang kondisi tempat yang dikunjungi. Makna sebuah perjalanan seolah terbatas pada tujuan akhir perjalanan itu, tanpa ada motif atau refleksi dilakukannya sebuah perjalanan. Pada pertemuan ini peserta workshop berupaya mengenali situs-situs penting di Asia dan Afrika, dan menceritakannya kembali secara personal.

PERTEMUAN VI: “SEBERSIT CAHAYA DARI JENDELA”
Salah satu hal yang paling menarik dari penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika adalah pada masa itu, di mana teknologi transportasi dan telekomunikasi masih sangat terbatas, para pemimpin bangsa Indonesia sudah memiliki gagasan untuk memikirkan nasib bangsa-bangsa di seberang lautan. Padahal belum tentu mereka pernah berhubungan langsung dengan bangsa-bangsa tersebut. Saat ini, ketersediaan internet memberikan kesempatan yang sama kepada setiap bangsa untuk mengenal bangsa lainnya melalui cerpen, puisi, lirik lagu, hingga film pendek dari pelosok dunia. Agenda pertemuan ini adalah apresiasi karya sastra dari seluruh dunia.

PERTEMUAN VII: “MENGAPA SAYA MENULIS? MENGAPA MESTI SEJARAH?”
Refleksi setelah workshop menulis selama satu setengah bulan.

Kelas akan dimulai pada 29 September 2011. Gratis bagi Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika. Tersedia tempat bagi tujuh orang. Kelas kedua dibuka jika peminat membludak dan dirasa perlu. Setiap peserta berkumpul seminggu sekali setiap hari Kamis dengan durasi pertemuan empat jam, 16:00-20:00. Pertemuan dibagi dua sesi, dengan menulis dan mengapresiasi karya sebagai kegiatan utamanya. Info lebih lengkap hubungi Admin Sahabat Museum KAA, Deni Rachman (08562035327).

Fasilitator: Andika

Rabu, 17 Agustus 2011

Bandung, 18 Juli 2011

Bandung, 18 Juli 2011

Kepada Pak R

di depan monitor paling besar
di ruang komputer.

Kelihatannya Napak Tilas Konperensi Asia-Afrika yang lalu membuat penasaran sejumlah orang di museum. Sebelum hari H, terhitung ada empat staf yang menanyakan apakah saya ikut juga dalam perjalanan ke Jakarta itu. Bapak masih ingat? Sehari jelang napak tilas, Menteri Luar Negeri kita mengunjungi museum dalam rangka inspeksi mendadak. Sementara Pak Isman menemani beliau berkeliling, Bu Ely menginstruksikan para staf museum agar kelihatan sibuk. Hari itu Pak Naryo bahkan memakai kemeja terbaiknya, Pak Marty menjabat tangan nyaris semua orang, termasuk tangan saya dan Iyan. Beliau kelihatan puas. “Ini teman-teman Sahabat Museum,” Pak Isman memperkenalkan. “Lagi apa?” tanya Pak Marty. “Gunting-gunting!” sahut saya yang sedang mengguntingi nametag peserta napak tilas. “Apa?” Beliau keheranan. “Gunting-gunting,” ulang istrinya, tersenyum. Ketika Pak Marty melanjutkan berkeliling, Bapak lalu mengingatkan Iyan untuk menyerahkan foto-foto napak tilas 'besok'. “Penting untuk laporannya nanti,” ujar Bapak. Tentu saja akhirnya berfoto merupakan kegiatan pertama kami setiap kali sampai di tempat tujuan! Barangkali hasilnya saat ini sudah ada di database museum, tersimpan aman dalam folder 2011 – JULI – ACARA. Saya pikir tak ada ruginya menulis sedikit catatan untuk melengkapi foto-foto tersebut. Mudah-mudahan setelah membaca ini, Bapak dan staf museum lainnya tidak lagi penasaran.


Rabu, 13 Juli 2011. Ketika langit berubah warna dari hitam menjadi biru, rombongan Asian African Reading Club + Komunitas Aleut! bangkit dan memulai perjalanan. Untuk perjalanan sehari, daftar tujuan kami lumayan banyak: Istana Bogor, Gedung Pancasila, Kediaman Roeslan Abdulgani, Kediaman Ali Sastroamidjojo, serta Newseum Café. Sekitar enam puluh orang rombongan kami menumpangi Bus Patriot. Saya duduk di antara Sesti (24) dan Auliasa (19). Kami bertiga menempati kursi tiga deret yang menempel di bagian kanan bus. Di belakang kami terdapat kaca tembus pandang yang memisahkan area ber-AC dengan area merokok. Area merokok ini disebut akuarium. Di dalamnya tampak jelas wajah Pak Des, Pak Samudro, Febby, serta teman-teman lain sedang asyik mengobrol. Namun bagi siapapun di luar akuarium, isi obrolan mereka tetap jadi misteri.


Pagi itu Bus Patriot melaju sama mellow-nya dengan lagu-lagu Dewa dan Kerispatih yang mengalun darispeaker. Mungkin hanya menang sedikit dari laju angin sepoi-sepoi. Rombongan kami tiba di Kota Hujan sekitar jam 9. Saya dan Sesti mengagumi pemandangan rumah dan bangunan di sekitar Kebun Raya Bogor. Semua rindang dan tertata. Penulis Fira Basuki pernah mengibaratkan kota ini sebagai telur ceplok; Istana dan Kebun Raya merupakan kuning telurnya. Saya teringat gerundelan Bapak ketika baru dari pulang dari dinas ke Yogyakarta: “Di sana pasarnya bersih, lapak-lapaknya rapi, beda dengan di sini yang kotor, semrawut. Saya bingung ciri khasnya Bandung apa.” Seandainya ada wisatawan yang menanyakan, “Di mana pusat kota Bandung?”, bagaimana Bapak akan menjawabnya?

Memasuki Istana Bogor, rombongan kami diarahkan menuju pelataran sayap kiri. Di halaman istana, sejauh mata memandang yang ada cuma rumput dan pepohonan! Mungkin ini hanya dirasakan oleh orang yang tak pernah menonton sepak bola daru pinggir lapangan, tetapi inilah pertama kalinya saya melihat warna hijau sebanyak itu! Siapa yang setiap hari menyiram rumput? Apakah Tuhan? Inikah alasan Bogor dijuluki Kota Hujan? Dan siapa pula yang menjaga rumput tetap pendek? Di kejauhan tampak juga sejumlah patung hias. Konon beberapa di antaranya merupakan pemberian Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito untuk Presiden Soekarno. Saat dunia dibekukan Perang Dingin, keduanya bahu-membahu memprakarsai Gerakan Non-Blok. Ketika nyaris semua orang sibuk dengan kameranya, hanya Dian Vita yang terlihat santai-santai. Gadis berkacamata ini menjelaskan bahwa setiap ulang tahun kota Bogor. Istana Bogor dibuka bagi umum. Sebagai warga Bogor, ia sudah tak asing lagi dengan pemandangan ini. Main-main Dian menggandeng tangan saya dan Sesti, mengajak kami pergi ke Kebun Raya saja.


“Situasi terkendali. Rombongan tidak memiliki motif politik,” bisik seorang bapak kepada walkie-talkie-nya. Ia mengikuti rombongan kami dari belakang. Sementara itu, di depan, kami berkeliling didampingi Pak Ferry. Pemandu kami ini mengenakan baju safari coklat, kalung logam, sabuk bercorak, sepatu putih, dan cincin bermata batu akik. Kumisnya panjang! Melalui toa, Pak Ferry bercerita tentang sejarah Istana Bogor. Konon, Gubernur Jenderal VOC ke-29, Gustaff Willem Baron Van Imhoff jatuh hati dengan keasrian Bogor yang pada tahun 1744 masih berupa sebuah kampung kecil. Tahun itu juga Bogor dijadikan daerah pertanian dan dibangunlah sebuah rumah peristirahatan yang menjadi cikal bakal Istana Bogor. Istana Bogor awalnya bernama Buitenzorg atau Sans Souci, berarti 'tanpa kekhawatiran'. Selama 1870-1942, Buitenzorg menjadi kediaman resmi 38 Gubernur Jenderal Belanda dan seorang Gubernur Jenderal Inggris. Istana ini awalnya bertingkat tiga, tetapi meletusnya Gunung Salak pada 1834 memorak-porandakannya. Ketika dibangun lagi pada 1850, Buitenzorg menjadi satu tingkat saja. Tahun 1950, setelah masa kemerdekaan, Istana Bogor mulai digunakan pemerintah Indonesia dan resmi menjadi salah satu Istana Presiden Indonesia. Desember 1954, istana ini menjadi saksi berlangsungnya Konferensi Bogor yang mendahului Konferensi Asia-Afrika.

Menurut Pak Ferry, Presiden Soekarno mengumpulkan, memilih, dan menata sendiri sebagian besar perabotan dan karya seni di sana. Setiap kali singgah beliau akan melepas sepatu dan memeriksa dengan jarinya kalau-kalau masih ada debu yang menempel. Dapat dikatakan Istana Bogor adalah rumah Bung Karno. Seharusnya hal-hal tersebut membuat Istana Bogor berbicara banyak tentang presiden pertama kita, tetapi satu-satunya kesan yang melekat pada saya hanyalah betapa playboy-nya beliau! Dinding istana terlalu penuh lukisan-lukisan perempuan yang bukan istrinya. Dan walaupun istana menyimpan banyak patung perempuan telanjang, patung laki-laki yang saya temukan hanya patung Hercules di halaman istana. Bagaimana ini adil!? Dari pintu ruang baca, Pak Ferry memperlihatkan lukisan The Russian Wedding karya maestro Rusia, Makowski. Lukisan ini sangat besar, semarak menggambarkan suasana pesta. Sayangnya pengunjung tak diperkenankan masuk; sulit mengamati detil lukisan maupun melirik judul buku-buku yang tersimpan dalam lemari.


Di awal penjelasannya, Pak Ferry menyatakan Istana Bogor merupakan kekayaan milik bangsa. Namun setelah dua jam berkeliling, saya justru meragukan kebenarannya. Kemewahan Istana Bogor terasa jauh dari apa yang sehari-hari dihadapi kebanyakan orang Indonesia. Ketika rombongan hendak melanjutkan perjalanan, seperti kerasukan, tiba-tiba Teh Cici menyerukan kamilah para generasi muda 'terpilih' yang berkewajiban mengenal 'jati diri bangsa'. Seruan ini terdengar sumbang dan tidak pada tempatnya. Mencari jati diri bangsa di Istana Bogor ibarat mencari suara rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat. Lagipula bukankah semua orang memang 'terpilih' dalam satu dan lain hal? Pada perjalanan ke Jakarta, Auliasa meneruskan desas-desus kalau sebetulnya Teh Cici tadi 'dimasuki' arwah Bung Karno. Saya dan Sesti kontan bertukar pandangan skeptis. Alis saya terangkat. Betapa bersyukurnya saat itu kami duduk bersebelahan!

***

Seperti mesin cuci yang terkadang membuat kaus kaki melar, kemacetan lalu-lintas Jakarta juga mengulur waktu perjalanan kami. Berapa lama perjalanan paling lama yang pernah Bapak tempuh? Saat itu istirahat dan santap siang di Pusdiklat Kemlu bahkan tak mampu mengenyahkan rasa lelah karena kelamaan menekuk kaki. Walhasil begitu sampai di Gedung Pancasila yang saya inginkan cuma tidur atau lari-lari. Bahkan mata saya nyaris terpejam sebelum menyadari bahwa sosok yang memandu kami di sana tak lain adalah Pak Isman! Meskipun teras gedung waktu itu terlalu panas untuk mendengarkan sambutan beliau, saya lega rombongan akan dipandu Pak Isman. Sekental apapun sejarah Gedung Pancasila, rasa-rasanya tak akan sampai melarutkan selera humor kepala museum kita itu.


Menurut Pak Isman, Gedung Pancasila dinamakan begitu karena di sanalah lahir Pancasila sebagai dasar negara. Pada sidang tanggal 1 Juni 1945, Ketua Badan Penyelidik Upaya-Upaya Kemerdekaan (“Ingat BPUPK,” tegas Pak Isman. “Bukan BPUPKI. BPUPK diterjemahkan dari Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai, nggak ada kata Indonesia-nya, kan?”) Dr. Radjiman Wedyodiningrat bertanya kepada seluruh hadirin, “Apa dasar Negara Indonesia yang akan kita bentuk?” Melalui pidatonya, Ir. Soekarno menjawab pertanyaan itu sekaligus menanggapi uraian pembicara-pembicara sebelumnya. Jawaban Bung Karno berisi lima sila yang diusulkan sebagai Dasar Negara Indonesia Merdeka, yaitu: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hadirin lantas bertepuk tangan secara 'riuh' dan 'menggemparkan'. Selanjutnya Dr. Radjiman mengenang pidato tersebut sebagai momentum kelahiran Pancasila. Menurut beliau, meskipun saat itu sidang berlangsung di bawah pengawasan bala tentara Jepang, pidato Bung Karno keluar dari jiwanya secara spontan.

Sejarah mencatat Gedung Pancasila mulanya merupakan kediaman para panglima Belanda. Dianggap memadai, bangunan ini lantas dijadikan markas Volksraad atau Dewan Perwakilan Rakyat pada 1918. Saat itu, anggota Volksraad berasal dari berbagai kalangan, terdiri dari orang-orang Belanda, pribumi, China, Arab, dll. Menurut situs resmi Kemlu: “Volksraad adalah sebuah dewan rakyat yang wewenangnya sangat terbatas. Semula dewan hanya diberi hak untuk memberi nasihat kepada pemerintah. Dalam perkembangannya, pada 1927 Volksraad diberi juga wewenang untuk membuat Undang-Undang bersama dengan Gubernur Jenderal. Namun wewenang itu tidak banyak berarti karena Gubernur Jenderal tetap memegang hak veto.” Rasanya praktek seperti ini masih terjadi ya, Pak? Membaca istilah 'hak veto' saya selalu teringat proses pengambilan keputusan di Dewan Keamanan PBB.

Sekitar tahun 1950, Gedung Pancasila mulai menjadi kantor Kementerian Luar Negeri. Menjelang Konferensi Asia-Afrika, gedung ini menjadi pusat kegiatan Sekretariat Bersama Konferensi yang diketuai oleh Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri, Pak Roeslan Abdulgani. Anggota Sekretariat Bersama terdiri dari para Duta Besar Burma, India, Pakistan, dan Ceylon di Jakarta. “Sekarang Gedung Pancasila digunakan untuk menerima tamu-tamu asing setingkat menteri,” jelas Pak Isman. Pandangan saya tertuju pada karpet merah yang memanjang di atas lantai marmer. “Selain itu di sini juga jadi tempat penandatanganan perjanjian-perjanjian internasional.”

Sekretaris Jenderal Asian-African Reading Club, Adew Habtsa mengibaratkan bagian dalam Gedung Pancasila seperti perempuan cantik yang dandanannya menor. Tirainya biru. Wanginya menusuk. Sementara itu, beberapa chandelier menyala gemerlap. Sejumlah perabotan terbuat dari kayu berukir, sejumlah lainnya berlapiskan kertas emas. Bu Nunun berpendapat usaha memadukan arsitektur klasik kolonial dengan gaya tradisional Indonesia ini terasa dipaksakan. Rombongan kami lalu foto bersama Pak Isman di bawah Elang Garuda Pancasila. Foto ini, sebagaimana foto-foto lain di dalam gedung, sayangnya tidak bisa di-published. Saya tidak yakin apakah Bapak pernah masuk ke Gedung Pancasila atau belum, yang jelas gedung ini akan dibuka bagi umum pada tahun depan.

***

Pak R, sudah berkali-kali memoar Roeslan Abdulgani, The Bandung Connection, dibahas dalam Asia Africa Reading Club. Namun saya belum juga bosan. Itu karena beliau menuturkan berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika dengan ringan sekaligus penuh pengamatan. Sudut pandang orang pertama yang digunakan menimbulkan perasaan dekat antara Pak Roeslan dan pembaca. Saya ingat suatu hari pernah menanyakan seperti apa rumah Pak Roeslan. “Rumah Belanda. Bagus, masih terawat,” jawab Bapak. “Ketika museum sedang dibangun, dua kali saya ke sana untuk menanyakan lebih detil fungsi ruang-ruang di Gedung Merdeka pada saat konferensi tahun 1955.” Sayang upaya ini gagal. “Kunjungan pertama: beliau sakit. Kunjungan kedua: Pak Roeslan sedang pergi ke Surabaya. Saya hanya bertemu ajudannya.” tutur Bapak. “Ajudannya cerita apa?” tanya saya. “Nggak cerita apa-apa. Kami hanya bicara di luar rumah. Pembangunan museum keburu selesai sebelum saya bertemu beliau.” Bapak tidak mengatakannya, tetapi saya tahu Bapak kecewa.

Rumah Pak Roeslan terletak di Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat. Seperti yang Bapak katakan, rumah ini merupakan rumah Belanda yang dirawat baik-baik. Di sekitarnya berderet rumah-rumah serupa dari era kolonial. Konon permukiman ini merupakan permukiman villa pertama di Batavia. Kawasan ini ibarat Miss Marple dalam novel Agatha Christie: wanita tua, tenang, tetapi tahu banyak. Salah satu rumah di sana merupakan tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia. Rumah Pak Roeslan pun pernah ditinggali Bung Karno sekembalinya dari pengasingan di Bengkulu. Pusat Kebudayaan Rusia di seberang jalan menarik perhatian saya dan Sesti. (“Apa rasanya punya rumah di seberang Pusat Kebudayaan Rusia?” ujar Sesti berandai-andai. “Apa otomatis kita jadi jago Bahasa Rusia?” Diam-diam saya menggeleng.) Begitu bus berhenti, rombongan kami segera disambut Bu Lia, anak bungsu Pak Roeslan, serta Pak Manto, suaminya. “Akhirnya sampai juga!” seru Bu Lia. “Aku kira kalian hilang! Aku SMS Deni jam sebelas katanya ada di Bogor. Sampai sore, kok nggak datang-datang? Ayo masuk. Pasti pada mau ngopi, kan?”


Sayang sekali dulu Bapak tidak sempat masuk ke rumah Pak Roeslan. Kalau ya saya yakin Bapak bakalan senang sekali! Rumah ini penuh dengan koleksi beliau: koleksi tongkat, koleksi Al-Qur'an, koleksi porselen, sampai koleksi buku yang katanya mencapai sepuluh ribu judul! Pada secarik kertas pembatas Al-Qur'an, Pak Roeslan mencatat ayat-ayat kesukaannya. Di ruang depan, meja kerja Pak Roeslan dibiarkan seperti ketika pemiliknya masih hidup. Terlihat kaca pembesar dan mesin tik yang hingga menjelang akhir hayatnya masih sering digunakan Pak Roeslan untuk membaca dan menulis. “Jangankan membujuk bapak menulis dengan komputer, menulis dengan mesin tik elektronik saja sulitnya luar biasa,” kenang Bu Lia. “Akhirnya yang terpenting bagi kami adalah kenyamanan bapak.” Menurut Pak Manto, setelah Sholat Subuh biasanya ayah mertuanya tidak tidur, tetapi langsung menulis artikel untuk media massa ataupun tulisan-tulisan ilmiah.


“Sejak kecil aku tinggal di sini bersama Bapak dan Ibu,” cerita Bu Lia. “Waktu aku mulai besar, semua kakakku sudah menikah dan tinggal berpencar-pencar. Sama kakak yang paling dekat saja aku beda sepuluh tahun. Biasanya di album foto lama cuma ada foto-foto bapak, ibu, dan kakak-kakakku. Kalau ada aku, paling fotonya cuma bertiga sama bapak dan ibu! Nah, baru sekarang saja ada foto aku dan kakak-kakakku.” Beliau lalu menunjuk sebuah kolase besar yang menempel di dinding. “Itu ibu yang buat,” ujar Bu Lia. Kolase itu memuat foto-foto Pak Roeslan bersama Ibu Sihwati selama lima puluh tahun pernikahan mereka. Pasangan ini berfoto di berbagai belahan dunia. Mereka mengenakan pakaian formal, pakaian santai, atau mantel tebal. Terkadang Ibu Sihwati memakai kebaya, terkadang Pak Roeslan memakai kupluk, Sesekali mereka berfoto dengan anak-anak, sesekali mereka berfoto dengan tokoh-tokoh dunia: Kruschev, Chou En-Lai, hingga Bobby Kennedy. “Keluarga kami sudah mengerti mengapa bapak jarang ada di rumah. Sebelum meninggal pun beliau masih sering pergi ke Surabaya, kalau tinggal di rumah terlalu lama bapak malah sakit. Bapak orangnya suka bercanda, tapi leluconnya sinis. Kadang-kadang orang suka bingung membedakan apa bapak serius atau sedang menyindir.”

Biasanya ketika menemukan nama dalam buku pelajaran sejarah, saya mendapat kesan bahwa pemilik nama itu hidup di dunia lain. Dunia yang hanya terdiri dari pahlawan dan pesakitan. Bagi saya kunjungan ke rumah Pak Roeslan menjadikannya bukan lagi sebagai mitos, melainkan sebagai 'orang' seperti saya, Sesti, Auliasa dan teman-teman kami lainnya. Saat hari mulai gelap rombongan kami berpamitan. Namun saya masih menyimpan segudang pertanyaan trivial tentang Pak Roeslan. Hal-hal seperti buku kesukaan beliau, musik kesukaan beliau, tentang film kesukaan, tentu para peserta AARC memahami betul kegemaran beliau menonton film-film thriller. Namun, apa makanan kesukaan Pak Roeslan? Hahaha. Pak Roeslan officially menjadi penulis favorit saya! Penulis ini tidak hanya menulis buku yang asyik dibaca, tetapi juga ikut serta dalam usaha menulis babak baru sejarah dunia.


***

(bersambung)

Kang Adew menuliskan puisi-puisi tentang napak tilas di sini : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150236305922730
M. Ryzki Wiryawan dari Komunitas Aleut menceritakan pengalaman napak tilasnya di sini: http://aleut.wordpress.com/2011/07/16/napak-tilas-konperensi-asia-afrika-sebuah-petite-histoire/
Foto oleh Iyan Septiyana.

Minggu, 23 Januari 2011

#2: Tablet ini dinamakan C

Catatan: mulai sekarang saya ingin rutin mengunggah tulisan-tulisan dari sesi menulis Reading Lights Writer's Circle. Tidak semua tulisan ini bagus, justru banyak yang memalukan. Namun dari kegiatan inilah saya paham kalau menulis itu menyenangkan.

Warnanya merah. Bentuknya hati. Tablet ini dinamakan C, kependekan dari 'cinta'. Penelitian membuktian C bisa menghilangkan perasaan ingin mencintai dan dicintai. Tablet ini bisa didapatkan tanpa resep dokter dan tidak menimbulkan kecanduan. Kalaupun ada masalah, pastilah karena harganya yang fantastis: enam juta untuk setiap tabletnya. Tetap saja, C laku bak kacang goreng. Masa ini disebut-sebut sebagai akhir dari era cinta organik.

Tiga hari yang lalu, Sius baru saja putus dari pacarnya empat tahun terakhir, Bimo. Sampai malam ini, ia belum bisa tidur nyenyak. Sius membasahi bantalnya setiap kali teringat laki-laki yang biasanya tidur di sisi lain kasur itu. Dadanya sakit penuh kenangan mereka berdua. Sius tahu masalahnya, ia pun tahu apa solusinya. Sius butuh menenggak C. Secepatnya.

Masalahnya, Sius bukan dari kalangan berpunya. Ia hanya mahasiswa dari Jambi dengan jatah bulanan terbatas. Setiap bulan orang tuanya mengirimkan tiga juta. Namun, terjebak dalam gaya hidup yang salah, ia tak pernah bisa menabung. Sekarang masih tanggal 17, tetapi sisa uang di ATM hanya lima ratus ribu. Biasanya Bimolah yang mengingatkan Sius untuk berhemat. Sekali lagi sosok Bimo muncul. Air mata Sius menggenang lagi.

***

Jam tiga pagi, sebuah ponsel berdering nyaring. Iwan, si empunyanya bangun. “Halo.”
“Iwan? Sius, nih,” kata suara dari seberang telepon.
“Kenapa, Yus?” tanya Iwan, menahan kantuk.
“Gue butuh uang nih. Empat juta saja … Gue butuh C secepatnya. Tiap ingat Bimo hati gue sakiiit sekali ….”
Langsung saja kepala Iwan bekerja. Berpikir. Mencari-cari alasan untuk menolak tanpa membuat Sius merasa tak enak. “Ah, coba elu mintanya kemarin!" tukas Iwan. "Gue baru saja bayar kredit mobil. Sekarang tabungan gue kosong!”
“Tapi hati gue sakiiiiit," lolong Sius. "Rasanya remuk, hancur, dan lebur. Gua perlu bantuan lu, Wan ...”
Iwan menghela napas. “Dulu sebelum C orang-orang juga bisa survive, kok. Jangan berlebihan lu.”
Telepon pun ditutup.

***

Sisa malam dipakai Sius untuk menangis. Ia teringat lagi pertemuan pertamanya dengan Bimo. Hari itu hari pertamanya menginjakkan kaki di kampus. Ketika itu Bimo, seorang aktivis, sedang berkampanye. Pemuda ceking bersuara nyaring itu mengajak mahasiswa-mahasiswa baru bersikap tegas melawan pemerintah yang kebijakannya hanya menguntungkan investor. Idealisme Bimo dalam memperjuangkan sesuatu menembus hati Sius. Setelah berbulan-bulan pura-pura peduli dengan isu itu, Sius menyatakan cintanya. Ketika itu gayung bersambut.

Jam delapan pagi, air mata Sius sudah habis. Namun tidak dengan kepedihannya. Perasaannya tidak enak, tetapi hari itu ia bertekad keluar dari kamar kosnya. Sius akan mencari tablet C bajakan yang marak dijual di jalanan.

Tablet C tak luput dari pembajakan. Konon C yang beredar ilegal di jalanan merupakan produk percobaan yang sengaja disebar oleh pabrik obat saingan. Apabila tablet C resmi tidak memiliki efek samping, tablet C bajakan memiliki banyak efek samping. Dari yang paling ringan: gatal-gatal sampai efek keracunan yang membuat orang tak mampu lagi mencintai tanpa kehilangan keinginan untuk dicintai. Resikonya memang besar, tapi rasa frustrasi karena putus cinta membuat orang sukarela menjadi kelinci. Tablet C bajakan relatif murah, rata-rata tiga ratus ribu setiap tabletnya.

***

Sebuah angkutan kota berhenti di depan Jalan Dalem Kaum. Sius turun. Hampir semua orang Bandung tahu di sanalah pusat penjualan C bajakan. Meskipun praktek jual beli ini ilegal, pihak berwenang angkat tangan. Tiap bulannya rekening mereka semakin gendut dengan setoran yang dikirimkan para pedagang.

“C, Mas! C?” cegat seorang pedagang ketika Sius berjalan di trotoar.
Sius mengangguk. “Berapa?”
Si pedagang C bajakan merendahkan suaranya “500 ribu per tablet.”
“Bah! 500 ribu! Aku tak punya uang segitu!” tolak Sius.
“Harganya memang agak mahal. Tapi yang ini ampuh sekali," bujuk si pedagang. "Sejak keluar bulan lalu, belum ada yang mengeluhkan efek sampingnya. Ori, lah.”
Sius menggeleng. “Kakak tidak punya yang lebih murah?”
Si pedagang menyerah. “Jelas ada. Tapi ini keluaran tahun lalu. Banyak orang yang hilang nafsu makannya setelah menenggak ini, khasiatnya pun nggak terlalu ampuh. Sekarang ini malah dijual sebagai obat diet. Harganya 100 ribu per tablet, mau?"
Sius menghela napas. Ia mengeluarkan beberapa lembaran 100 ribu. "Tiga," ujar Sius. Setelah membeli sebotol Aqua, pemuda itu langsung menelan ketiga pil itu. Baru berjalan beberapa langkah, Sius pingsan.

“Tolooong! Toloooong! Ada orang pingsan,” seru seorang ibu yang sedang menggendong bayinya.
Massa pun berkerumun. “Jigana mah karacunan C,” bisik seorang pramuniaga. “Lagi?” sahut temannya.

Dengan tergopoh-gopoh seorang laki-laki jangkung menerobos ke kerumunan. “Saya dokter, saya dokter.” Dokter itu menekan-nekan perut Sius. Berusaha mengeluarkan apa yang baru saja ditelan pemuda itu. Setelah beberapa saat, Sius terbatuk dan mengeluarkan isi perutnya. Perlahan ia membuka matanya. Sius menangkap sosok dokter. Rambutnya kelabu. Wajahnya serius, seperti Gabriel Byrne dalam serial In Treatment. Dengan suara yang setengah serak sang dokter bertanya, “Kamu nggak apa-apa?”

Ketika itu Sius tahu dirinya tidak perlu C lagi.

Rabu, 19 Januari 2011

#1

Yudi, aku pernah cerita kalau aku sering dikunjungi orang yang akan meninggal dalam mimpiku. Nah, semalam aku mimpi kau datang berpamitan.

***

Jujur, aku tak ingat lagi mengapa aku pernah suka padamu. Dalam kencan-kencan kita, dalam pembicaraan telepon berjam-jam, yang kau sebut-sebut hanyalah betapa malangnya dirimu.

Aku bosan mendengar kisah perceraian orang tuamu. Entah berapa belas kali aku mendengarnya. Asal kau tahu, aku pernah sangat ingin menguap ketika kau sampai pada bagian di mana ibumu menikah lagi. Bagaimana ayah tirimu kerap menyentuhmu di bagian yang tak seharusnya.

Tidak hanya itu, aku khatam dengan kecemburuanmu dengan adik tiri dari ayahmu. Bagaimana ia lebih pintar dan disayang. Aku juga muak dengan kegagalanmu menyelesaikan kuliah. Setiap kali kutanya, jawabanmu selalu menyalahkan dosen-dosen yang katamu adalah para pembual yang tak betul-betul tahu apa yang mereka katakan.

Bagimu dunia adalah gudang sempit, gelap, dan penuh kotoran. Yang senang di dalamnya hanyalah tikus-tikus yang mencari sesuatu untuk dikerat.

Ketika kita putus, kau bilang aku adalah sosok penuh kepura-puraan yang terlalu takut untuk jadi diri sendiri. Namun menurutku, memutuskanmu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat. Saat itulah aku betul-betul menjadi aku. Bukan boneka yang hanya diam saja kau jejali ceritamu.

Dulu kau sering bilang, "Mending aku mati saja. Aku mau mati." Sekarang aku ingin mengucapkan selamat. Besok keinginanmu tercapai. Sampaikan salamku pada sang pencipta.