Minggu, 30 Desember 2012

Pengalaman Membaca Buku Paling Diingat 2012 (Bagian 2)


Beberapa tahun belakangan, saya merupakan warga negara Indonesia pencinta buku berkelakuan buruk. Saya tak rutin lagi membaca cerpen dan ulasan buku di media massa besar, sebutlah Kompas dan Tempo. Saya tidak lagi mengikuti berita naskah apa yang memenangkan sayembara penulisan, maupun buku apa yang memenangkan penghargaan kesusasteraan. Twitter, Goodreads, dan blog penggemar buku menjadi telinga yang mendengar judul apa yang sedang dibaca dan banyak dibicarakan orang. Namun, nyaris tidak memberikan pengaruh terhadap pola belanja buku saya. Saya semakin jarang membeli buku berbahasa Indonesia terbitan baru. Meskipun kunjungan ke toko buku hampir tiap minggu dilakukan, kebanyakan berakhir dengan tangan hampa.

Saya merindukan: ulasan buku penuh rayuan, yang membujuk saya mau terjun ke dalam lubang demi memuaskan rasa ingin tahu. Saya ingin: membaca wawancara dengan penulis, yang memberi gagasan tak hanya tentang siapa si penulis dan tentang apa bukunya, tetapi juga dunia di mata penulis—apa pandangannya pada peristiwa yang terjadi saat ini. Saya mengharapkan: media massa di Indonesia memiliki jawaban atas edisi 20 Under 40 mingguan The New Yorker. Edisi ini memuat dua puluh cerpen yang ditulis dua puluh penulis berusia di bawah empat puluh tahun. Pembaca The New Yorker pun dimanjakan beragam tema dan gaya penulisan, sekaligus kisi-kisi bakat baru yang layak memperoleh perhatiannya. Saya memimpikan: pengalaman belanja yang berbeda di setiap toko buku. Penjual buku adalah seseorang yang paham dagangannya dan siapa pembelinya. Mereka menjadi semacam kurator, di mana buku-buku di tokonya merupakan kepanjangan dari selera dan kepribadian masing-masing. Mereka harus ramah luar biasa, serta secara rutin menyusun deretan buku unggulan yang lantas mereka promosikan secara aktif dan kreatif. Penjual buku idaman saya akan membuat struktur di mana dengan mudah pengunjung toko bisa terlibat lebih jauh di dalam toko buku, dengan merekomendasikan buku favoritnya kepada pengunjung lainnya.

***

4. Daftar pengalaman membaca paling berkesan 2012 ini berlanjut menanggapi pertanyaan seorang teman pada sebuah siang cerah yang tak terlalu sibuk, "Biasanya kamu beli buku berdasarkan apa, Andika?”

“Saya membaca punggung bukunya,” sahut saya. “Mencari tahu buku itu tentang apa, melihat endorsement-nya, lalu membaca paling tidak beberapa halaman pertama. Kalau lantas mau melanjutkan, baru saya beli.”

“Terus kalau bukunya dibungkus plastik kamu buka?” tanyanya.

“Eh … “ saya diam sejenak, “jawaban saya tadi biasanya cuma dilakukan waktu berkunjung ke toko buku bekas saja. Saya nggak pernah beli buku baru.”

“Jadi kamu beli buku baru berdasarkan apa?”

“Mungkin resensi. Kalau saya suka karya dia sebelumnya, ada kemungkinan saya beli karya terbarunya.”

Kenyataannya, dalam setahun ini hanya satu kasus yang sesuai jawaban terakhir saya: Na Willa karya Reda Gaudiamo.

Reda Gaudiamo adalah penulis istimewa bagi saya. Ketika SMA (serasa lima juta tahun lalu) saya sudah suka membaca, tetapi belum suka menulis selain diary. Belum kenal ambisi menerbitkan karya. Suatu hari, berjalan kaki pulang dari sekolah di daerah Dago, saya melihat sebuah toko buku kecil berukuran setengah garasi. Toko itu kelihatan teduh dan sepi—mungkin itu kesan yang tak sengaja muncul dari letaknya di tepi jalan yang dinaungi bayangan pohon-pohon besar. Tidak terburu-buru, saya pun mampir. Saking sepi dan mungilnya, hanya melangkah masuk saya sudah merasa bersalah karena menginterupsi lamunan penjaganya. Setelah beberapa menit painfully self-conscious, saya menemukan kumpulan cerpen pertama Reda yang berjudul Bisik-Bisik.

Bisik-Bisik berukuran kecil, berwarna jambon, dan dibungkus plastik yang bisa dibuka tanpa harus dirobek. Penasaran dengan judul serta penggalan cerpen di punggungnya, saya membuka bungkus plastik buku itu. Membaca beberapa cerpen, saya tak langsung terpikat tetapi cukup senang dengan format cerpennya yang dialog semua. Baru! Saya kemudian keluar membawa pulang Bisik-Bisik. (Sebagian karena kesulitan memasukkannya kembali ke dalam bungkus plastik.) Di kemudian hari, gaya bertutur serba dialog ini menginspirasi saya menulis cerita fiksi berformat sama. Kelihatannya gampang sekali! Sampai sekarang, setiap melihat Bisik-Bisik saya masih ingat hari ketika saya membelinya.

Sebagaimana pembaca buku pada umumnya, setelah menamatkan Bisik-Bisik saya lanjut membaca buku lainnya. Banyak buku. Beberapa di antaranya membuat saya jatuh hati dan sama berpengaruhnya seperti Bisik-Bisik. Saya gembira ketika suatu hari menjumpai Pengantin Baru, buku kedua Reda, di rak perpustakaan. Namun, kecewa setelah membacanya. Meskipun buku itu ditulis penulis kesukaan, rupanya Pengantin Baru belum terlalu beranjak dari Bisik-Bisik. Penuturan yang dulu segar, sekarang berkurang daya tariknya. Terlebih ketika menjelaskan tema serupa. Padahal saya yakin penuturan Reda bisa mengangkat lebih banyak tema secara lebih dalam.

Suatu Minggu pada tahun 2012, menghadapi kebosanan di rumah, saya iseng ke luar untuk beli surat kabar (satu dari dua eksemplar saja yang saya beli tahun ini). Membaca sepintas dari depan sampai belakang, “Waaa, rupanya Reda Gaudiamo mengeluarkan buku lagi! Judulnya Na Willa!” seru saya sesampainya pada halaman resensi buku. Muncul keinginan membaca dan memiliki Na Willa, apalagi (walaupun dengan kata-kata sifat sederhana) buku itu digambarkan sebagai buku layak baca. Beberapa hari kemudian hal itu saya lakukan, dan saya sama sekali tidak menyesal.

Sebagian kesenangan membaca Na Willa muncul dari buku itu sendiri: Desain buku apik, dengan ilustrasi cantik hampir di setiap halaman. Gaya penuturan sederhana Reda bersinar ketika narasi dalam bukunya disuarakan Willa, seorang anak perempuan jelang usia sekolah. Willa yang senang bernyanyi, main kelereng, belajar membaca, dan ingin segera bersekolah. Saya suka cerita kehidupan keluarga dan bertetangga di permukiman pinggir kota Surabaya pada 1960-an. Saya suka perbedaan etnis orang tua Na Willa, dan cerita ketika Willa memutuskan ingin mirip siapa. Saya menghormati Mak, ibu Willa yang di balik setiap hukuman fisik menyimpan harapan terbaik bagi anaknya. Membaca Na Willa memunculkan perasaan hangat. Sebegitu sukanya, tanpa malu saya membuat serangkaian tweets tentang buku ini disertai harapan di antara follower saya yang tak seberapa itu ada yang membeli Na Willa.

Kesenangan lain. Muncul. Dari perasaan haru mendapati hati kembali tertinggal pada seorang penulis yang pernah sangat disuka.

Inilah pengalaman membaca paling menyenangkan selama 2012!

(Bersambung)

Sabtu, 29 Desember 2012

Pengalaman Membaca Buku Paling Diingat 2012

Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah acara bincang buku ulasan musik. Muncul pertanyaan menarik di tengah hangatnya obrolan, “Hampir semua orang senang mendengarkan musik—apapun jenisnya, tapi mengapa jarang ada yang mengulas musik sebagai bagian dari kehidupannya?”

Ulasan musik di koran dan majalah seringkali sebatas 5 W + 1 H, sementara ulasan di majalah musik cenderung teknis, membahas proses kreatif, dan menggunjingkan kehidupan pribadi musisinya. Saya tertegun, seperti baru disadarkan apa yang membuat saya sering melewatkan ulasan musik: 1. Kemunculan musik baru lebih cepat daripada kebutuhan saya mendengarkan musik baru; 2. Porsi ulasan musik terbatas, penulisnya jadi sering menyerah pada kata sifat dan penggunaan referensi yang belum saya tahu; 3. Kebanyakan musik diulas berdasarkan musik itu sendiri, tidak ditambahi konteks lagi oleh penulisnya. Celakalah saya!

Untungnya, pulang dari acara itu saya seperti dibekali oleh-oleh. Sederhana saja: kalau seseorang bisa jujur mengungkapkan semua alasan yang membuatnya menyukai (atau tidak menyukai) musik yang ia dengar, maka sesungguhnya itu cukup jadi bahan baku sebuah ulasan menarik. Terlepas dari musik kegemaran masing-masing, saya percaya kebanyakan orang merasakan dan dapat mengenali emosi yang sama pada orang lainnya. Dua orang bisa saja mendengarkan musik serupa dengan alasan berbeda, tergantung apa yang terjadi dalam hidupnya. Telinga tidak harus selalu merespon musik terbaru.

Pada penghujung tahun ini, saya lantas terdorong menuliskan pengalaman membaca buku (“Lho?”) yang paling diingat selama 2012. Mengapa jadi buku? Karena pada akhirnya saya pikir oleh-oleh yang saya bawa pulang tak berlaku hanya untuk ulasan musik. Namun juga, untuk ulasan-ulasan lainnya: buku, film, teater, fotografi, seni rupa, dll. Saya rasa ulasan yang muncul menanggapi hal-hal tersebut tidak berbeda jauh dengan ulasan musik. Belum banyak orang yang dengan sederhana menulis bagaimana ia menempatkan apa yang diulas ke dalam kesehariannya.

Buku merupakan bagian besar dalam hari-hari saya. Kebetulan buku yang saya baca lebih banyak dan beragam daripada musik yang saya dengar secara sadar selama setahun. Itulah yang berupaya saya tunjukkan pada tulisan ini. Selamat membaca!

***

PENGALAMAN MEMBACA BUKU PALING DIINGAT 2012:

1. Urutan pertama akan diberikan kepada buku yang lebih membekas secara fisik daripada secara emosional, 1Q84 oleh Haruki Murakami. Setebal 900-an halaman, buku ini sulit ditopang satu tangan. Karena beratnya itu, dia juga tidak enak dibaca sambil tiduran. (Yang tetap saya lakukan karena nyaris tak ada gangguan membaca jelang waktu tidur malam.) Pembatas buku yang saya pakai sering terselip di selimut. Pernah suatu malam, saking mengantuknya saya malas mencari pembatas itu dan menandai halaman dengan telapak tangan. Sensasi terjepitnya terbawa sampai mimpi, membawa kata dreamlike, yang sering dipakai menggambarkan karya Murakami, ke tingkat selanjutnya.

Lebih jauh, bagian seks dalam 1Q84 justru membuat saya kehilangan nafsu menamatkan buku itu. Dikisahkan suatu malam tiba-tiba tokoh utamanya ereksi seperti batu meskipun tak bisa bergerak dan tak terangsang secara seksual. Seperti sudah tahu dan menanti momen ini, tokoh perempuan yang menumpang di kamarnya lantas mengambil alih, memimpin persetubuhan. Sperma yang keluar lantas tidak membuahi sel telur perempuan yang saat itu bersetubuh dengan tokoh utama, tetapi seperti ditransfer ke perempuan lainnya lagi. Aspek kehilangan kendali tubuh tersebut menakutkan sekaligus membuat saya geram. Selepas bagian itu perlu beberapa saat sebelum saya melanjutkan lagi membaca sampai tamat.

Tahun ini semakin tegas saja kalau saya sudah tidak lagi menggilai Haruki Murakami seperti dulu. Berbeda dari saat membaca novel-novelnya yang lain, saya mendapati diri tak bisa lagi membiarkan kejadian-kejadian aneh di dalamnya berlalu. Tidak bisa lagi hanya berfokus pada perasaan yang timbul akibat membaca kejadian-kejadian itu. Kini saya merasa perlu tahu apakah ada alasan? Ataukah semuanya metafor? Kalau iya. lantas apa maknanya? (“Ayo dong, apa!”) Dulu juga saya sempat berpikiran karakter-karakter Murakami menggambarkan karakter orang Jepang pada umumnya, tetapi dalam profil Haruki Murakami di The New York Times Magazine reporternya mendapati tidak begitu. Jepang dan orang Jepang yang ia temui berbeda dengan Jepang dan orang Jepang dalam buku Murakami.

Usai 1Q84, saya berniat tidak lagi membaca karya Haruki Murakami. Sampai kemudian, beberapa hari setelah ulang tahun, seorang teman baik menghadiahkan novel pertama Murakami, Dengarlah Nyanyian Angin. Meskipun sudah tidak menggilai, rupanya saya masih bisa membaca buku itu sampai habis. Saya memahami daya tarik Murakami dan menerima kepopulerannya.

2. Sebegitu pemalunya saya, baru tahun ini mau berkenalan dengan sastra Indonesia klasik. Saya mulai sering mengunjungi tempat-tempat yang menyediakan buku-buku bergenre ini. Judul-judul yang saya tulis pada poin ini seluruhnya didapat dari Lawangbuku Beranda di Baltos dan Perpustakaan Batu Api di Jatinangor.

Saya cocok dengan gaya bahasa dan penuturan Gerson Poyk dalam buku kumpulan cerpen Di Bawah Matahari Bali, tetapi kurang cocok dengan temanya. Itu cukup membuat saya lanjut membaca novel Sang Guru oleh penulis yang sama. Kali ini kecewa total. Suatu hari saya menemukan Hati Nurani Manusia, salah satu novel Idrus. Sudah mengenalnya sejak SMP, ada penggalan “Jalan Lain ke Roma” lengkap dengan tokoh Open dalam buku teks Bahasa Indonesia. Tanpa pikir panjang buku pun dibawa pulang, Aman dari resiko kecewa, batin saya. Namun keliru, Saudara-Saudara! Saya yang mengingat kesederhanaan bertutur sebagai ciri khas cerpen Idrus, lantas menghadapi kenyataan dalam bentuk sebuah novel penuh deskripsi yang tidak lekas menjelaskan apa motif para tokohnya. Deskripsi, deskripsi, deskripsi!

Hati Nurani Manusia berkebalikan dengan kumpulan cerpen Senyum Karyamin Ahmad Tohari yang berplot cergas. Namun ada sesuatu yang membuat saya sulit akrab dengannya. Tema sastra Indonesia klasik yang saya temui kebanyakan seputar hal-hal sulit yang jauh dari ‘tema’ saya. Di Bawah Matahari Bali membahas hubungan laki-laki dengan perempuan. Sang Guru, tentang kesulitan seorang guru yang bertugas Ternate kala meletusnya pemberontakan Permesta. Hati Nurani Manusia, tentang keserakahan serta pengkhianatan. Senyum Karyamin paling getir, bahasannya kelaparan dan kemiskinan petani. Membaca Senyum Karyamin memunculkan rasa bersalah, karena, sambil baca buku itu ada makanan yang terhidang di meja. Ada uang dalam dompet untuk beli makanan. Saya merasa bersalah karena tidak tahu mesti berbuat apa untuk mengurangi penderitaan tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen itu. Bersalah karena tidak bisa apa-apa meskipun memiliki kesempatan lebih daripada mereka.

Sejauh ini, penulis kesukaan saya yang paling mendekati genre sastra Indonesia klasik adalah Vincent Mahieu, alias Jan Boon, alias Tjalie Robinson. Sebetulnya ia berkebangsaan Belanda, tetapi karena besar di Hindia Belanda, tulisannya banyak yang berlatar di sini. Saya suka karena tidak semua rekaman nostalgia diputar manis. Kental juga kepahitan, serta unsur realisme magisnya. Dua buku kumpulan cerpennya, Cis dan Cuk sebetulnya saya baca tahun lalu. Namun, cerpen “Santapan” dari Cis termasuk ke dalam Antologi Cerpen Terbaik Majalah Kisah Indonesia terbitan 1955 yang saya baca tahun ini.

“Santapan” mengambil latar zaman kekuasaan Jepang di Hindia Belanda. Ceritanya tentang seorang pengemis sekarat yang berebut tulang segar dengan seekor anjing. Perebutan tidak dilakukan secara fisik, tetapi dalam benak masing-masing. Sementara kesadaran si pengemis semakin melayang, ia berdialog dengan si anjing. Pada dialog ini anjing keluar sebagai pihak yang sopan dan logis, sementara manusia kasar dan berpikiran kabur. Meskipun “Santapan” memiliki tema serupa dengan “Senyum Karyamin”, ada jarak cukup aman antara latar cerita ini dengan keseharian saya sehingga tidak memunculkan rasa bersalah saat membacanya. “Ini terjadinya dulu,” ujar saya pada diri sendiri.

3. Alih-alih sastra Indonesia klasik, saya malah menyukai sastra Jepang klasik, The Counterfeiter, kumpulan cerpen Yasushi Inoue yang pertama kali terbit pada tahun 1965. Ada tiga cerpen dalam buku ini semuanya menggunakan realisme. Cerpen pertama dan paling berkesan berjudul “The Counterfeiter”. Tentang Hosen Hara, seorang pemalsu lukisan, yang diceritakan dari sudut pandang wartawan yang dapat pesanan menulis biografi seniman besar yang lukisannya ditiru oleh si pemalsu. Hara bukannya tanpa bakat. Akan tetapi, daripada membuka jalan sendiri, ia memilih jalan mengekor sahabatnya. Pada akhirnya jalan mengekor itu juga sama beratnya. Sebagai pemalsu. Hara tidak bisa terlalu lama tinggal di suatu tempat untuk menghindari ketahuan. Membuat kembang api lantas menjadi kesenangan dan obsesinya. Padahal pekerjaan itu sangat berat di musim dingin dan berbahaya bagi lingkungan sekitar. Lama-lama ia kehilangan kemampuan melukis dan dipandang sebelah mata oleh tetangga-tetangganya sampai akhir hayat. Dalam cerpen itu, satu-satunya yang bisa memetik pelajaran dari kisah hidup Hosen Hara adalah si wartawan.

The Counterfeiter saya beli beberapa tahun lalu di pameran buku tahunan Fakultas Ekonomi Unpar. Waktu itu stand toko buku Periplus mengobral karya-karya sastra Jepang klasik semacam The Counterfeiter dengan harga 3.500-5.000 rupiah. Saya membeli banyak, tetapi kemudian membacanya tidak sekaligus saat itu juga. The Counterfeiter ini ditamatkan tahun ini ketika sedang mudik ke Magelang. Saya sulit menjelaskannya, tetapi cerita berlatar Jepang tempo dulu yang penuh dengan nilai dan kebiasaan itu entah bagaimana cocok dibaca ketika berada di Jawa Tengah.

Rabu, 18 Januari 2012

Cerita-Cerita dari Pemutaran Film A Separation dan Ultah ke-1 LayarKita di Museum KAA

\
Bandung. Selasa, 10 Januari 2012. Mungkin rintik-rintik hujan siang itu akan cocok melatari adegan perpisahan mengharukan. Awalnya mereka seringan debu – terbang bebas ditiup angin. Namun lama-lama turun semakin deras. Seperti isakan yang menjadi tangis tak terbendung. Sebuah taksi menepi ke trotoar depan Museum KAA. Seorang pemuda bertubuh besar turun menyandang tas, menggenggam payung, dan mendekap kotak putih besar. Bram! Langkahnya kecil dan berhati-hati. Perasaan muram berganti hangat seiring datangnya kesadaran bahwa kotak yang dibawa Bram berisi kue ulang tahun!

“Saya yakin, di dalam kehidupan orang baik nggak akan selalu berbuat baik,” ujar Bang Tobing jelang pemutaran film Iran berjudul A Separation. “Begitu juga dengan orang jahat. Mereka nggak akan setiap hari berbuat jahat. Kadang-kadang situasi membuat orang baik berbuat jahat, begitupun sebaliknya.”

A Separation menjadi film pertama yang diputar LayarKita di Museum Konperensi Asia Afrika pada tahun 2012. Pukul setengah dua kurang beberapa menit, kursi-kursi merah di ruang audiovisual mulai dipadati penonton. Di meja samping, aneka penganan berderet menunggu untuk disantap. Di hadapan penonton, Sandi Muliawarman, seorang mahasiswa yang sedang praktik kerja lapangan, memastikan segenap peralatan terpasang sebagaimana mestinya.

Sandi pun mematikan lampu setelah menerima sandi dari Bang Tobing. Cerita A Separation bermula dari sebuah ruangan terang. Di sana duduk sepasang suami istri, menatap lurus ke kamera seakan berbicara langsung kepada penonton. Si suami (Nader) bercambang, sementara rambut merah istrinya (Simin) menyembul dari balik kerudungnya. Kepada seorang laki-laki yang tak tampak di layar, Simin menjelaskan keinginannya untuk bercerai. Alasannya, ia ingin anak mereka tumbuh dalam kondisi lebih baik. Simin tidak menjelaskan lebih baik dalam hal apa, tetapi itu berarti keluarga mereka harus segera keluar dari Iran. Nader keberatan dengan rencana itu. Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan ayahnya yang pengidap Alzheimer. “Ia bahkan sudah tak mengingatmu lagi,” potong Simin. “Aku masih mengingatnya,” sahut Nader tanpa melirik istrinya. Lambat laun penonton mengerti di mana latar percakapan yang mungkin telah berlangsung puluhan kali ini: pengadilan agama. Hakim yang mereka hadapi akhirnya menolak mengabulkan permohonan Simin karena merasa alasan perceraian mereka kurang kuat.

Selanjutnya latar berpindah ke tempat tinggal Nader dan Simin. Secara tersirat, keduanya merupakan bagian dari kelas menengah di Iran. Apartemen mereka luas dan nyaman. Ada sebuah ruangan yang dindingnya penuh buku. Di sana tinggal juga Termeh, putri mereka yang beranjak remaja, serta ayah Nader yang bernapas dibantu selang oksigen. Kepergian Simin membuat Nader harus menggaji seorang pembantu untuk membersihkan rumah dan menjaga ayahnya. Datanglah Razieh bersama putrinya yang masih anak-anak. Razieh adalah seorang muslimin taat, ia memasang jilbabnya rapat-rapat dan mengenakan pakaian longgar yang menyamarkan tubuhnya. Ketika ayah Nader buang air, Razieh sempat mempertanyakan apakah membersihkan tubuh laki-laki yang bukan muhrim itu dosa atau tidak. Tidak perlu waktu lama sebelum Razieh menyadari betapa beratnya tugas yang ia emban.

Pada suatu siang, Nader dan Termeh menemukan apartemen mereka dalam keadaan terkunci. Seharusnya Razieh sedang bekerja di dalam. Nader mendobrak pintu dan menemukan ayahnya jatuh dari tempat tidur. Tangannya dalam keadaan terikat ke dipan. Nader pun naik darah. Begitu Razieh datang, ia mengusirnya tanpa berusaha mendapat penjelasan. Nader menganggap Razieh lalai, tetapi Razieh tidak terima jika hari itu mesti pergi tanpa dibayar. Ia merasa sudah bekerja sebagaimana mestinya. Kesabaran Nader berada pada titik nadir. Ia lalu menuduh Razieh mencuri dan mendorong wanita itu keluar dari tempat tinggalnya. Razieh terjatuh. Kabar yang kemudian diterima Nader adalah Razieh masuk rumah sakit karena keguguran. Razieh dan suaminya lantas melaporkan Nader ke polisi, menuduhnya telah merenggut nyawa anak mereka. Pada proses pemeriksaan Nader, setiap orang yang terlibat dalam perkara ini diuji seberapa besar mereka meyakini kebenarannya masing-masing.


Kebenaran ... apa itu kebenaran? Kamus Besar Bahasa Indonesia menawarkan beberapa definisi. Pertama, kebenaran adalah keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Kedua, kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh ada. Definisi yang lain mencantumkan kebenaran sebagai kebetulan.

Pada umumnya, pertanyaan mengenai apa itu kebenaran akan berujung pada pertanyaan apa makna kehidupan: Bagaimana seharusnya hidup dijalankan? Adakah ukuran yang menentukan bahwa kehidupan seseorang bermakna atau tidak? Sebagian besar orang tidak bunuh diri karena meyakini hidupnya bermakna. Namun, apa maknanya? Apa manusia menghargai hidup semata-mata karena tidak bisa menghidupkan apa yang mati? Pertanyaan-pertanyaan itu sulit dijawab sehingga manusia pun memunculkan ide-ide. Barangkali salah satu ide paling sederhana menyebutkan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang berlangsung selama mungkin. Dari masa ke masa, manusia lantas berupaya untuk tetap bertahan hidup dengan cara yang terus berubah. Saat ini manusia mengenal uang. Demi bisa makan, seseorang mesti bekerja supaya memiliki uang untuk membeli makanan. Namun, apakah kehidupan akan lenyap tanpa adanya uang? Manusia pun mengenal agama. Sebagian besar agama mengajarkan bahwa Tuhan MahaAdil. Bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan, sebagaimana kejahatan akan dibalas kejahatan. Namun, apakah memang begitu? Mungkin tugas terberat kepolisian dan pengadilan adalah menjaga agar ide itu tetap hidup.

Lamunan itulah yang muncul ketika menyaksikan A Separation. Baik Nader, Simin, maupun Razieh memiliki cara berbeda dalam memaknai kehidupannya. Perbedaan itulah yang menyebabkan mereka bertindak dengan cara berbeda, serta membuat ketiganya berada dalam posisi berseberangan. Sama seperti kebanyakan orang, kadang-kadang untuk membuktikan diri paling benar, masing-masing mengiris sepotong fakta dan menyajikannya sebagai kebenaran utuh. Pada akhirnya para penonton pun sulit untuk hanya bersimpati kepada satu orang saja. Pak Deddy Mulyana menyatakan film ini tokohnya terbatas, tetapi berhasil memberikan gambaran tentang semua. Sementara itu, Bisma kagum akan kelengkapan di pengadilan syariah di Iran, di mana setiap saksi betul-betul didengarkan kesaksiannya. Bu Ida tersentuh dengan akhir film, begitupun dengan Arifin. Menurut pemuda ini, A Separation memiliki pelintiran alur yang sangat berkesan. Sama seperti Brea dan Harry, ia menyukai bagaimana pada akhirnya sang sutradara tidak menghakimi karakter-karakter dalam film ini.

A Separation diproduksi pascapemilihan umum di Iran yang berakhir ricuh pada tahun 2009. Puluhan orang meninggal serta ratusan cedera dan dipenjara akibat melakukan protes terhadap hasil pemilihan umum. Namun, gambaran tersebut tidak muncul dalam film ini. Pemerintah Iran sangat ketat dalam menerapkan sensor. Iran adalah negara di mana pengacara ditahan karena membela klien mereka, fotografer ditangkap karena mengambil foto, dan sutradara dipenjara karena membuat film. Namun ini tidak menghalangi sineas Iran untuk tetap berkarya, sekalipun dalam pengasingan. Menurut Bang Tobing, perfilman Iran saat ini justru melesat dibandingkan kebanyakan negara Asia lainnya.

Sutradara A Separation, Asghar Farhadi, menolak anggapan bahwa sensor justru membuat sutradara semakin kreatif. Kepada harian Inggris, The Guardian, ia berkata, “Jangan keliru. Saya membuat film dengan gaya seperti ini bukan karena batasan-batasan, Tidak ada keistimewaan yang diperoleh dari pembatasan. Saya tidak setuju dengan orang yang mengatakan bahwa pembatasan membuat kita lebih kreatif. Slogan itu melenceng. Bisa jadi saya dapat lebih kreatif lagi tanpa batasan.”

Ulang Tahun
Ada suatu masa di mana Bang Tobing dan kawan-kawan merayakan ulang tahun komunitas menonton film mereka dengan amat meriah. Di sebuah ruangan besar, penampilan trio musisi membuka perayaan tersebut. Para pengunjung datang berbondong-bondong. Di hadapan mereka berderet buku-buku serta aneka poster film yang dibagikan cuma-cuma. Sejumlah narasumber diundang menjadi penghangat diskusi yang lantas digelar. Saat perayaan mesti berakhir, para hadirin pulang dengan perut kenyang dan senyum yang menyiratkan kepuasan.

Berganti tahun, berganti pula cerita. Menggantikan kemeriahan besar di sebuah tempat, perayaan ulang tahun ke-1 LayarKita berlangsung sederhana di empat lokasi: DKV Itenas, Museum Konperensi Asia Afrika, Radio Maestro, serta CCF. Kali ini tidak ada limpahan doorprize atau ingar-bingar musik. Cukup pemutaran film dan diskusi – dua hal yang menjadi alasan saya dan teman-teman setia mengikuti kegiatan LayarKita. Kalaupun muncul kue cokelat di keempat lokasi mitra LayarKita, maka kue itu menjadi kejutan menyenangkan.

Saya ingat pertama kali menonton film bersama MYCinema. Ketika itu film yang diputar adalah Milk-nya Gus Van Sant. Mereka bermarkas di GKI Maulana Yusup. Dulu inilah komunitas menonton yang digerakkan oleh Bang Tobing, dkk. Milk diputar berkat kerjasama MYCinema dan Qmunity. Meskipun sering juga mendapatkan jadwal pemutaran film, saya sempat lama tidak menonton di sana. Sampai pada suatu Senin, MYCinema memutar Dekalog-nya Kieslowski, film berseri yang berisi interpretasi bebas tentang Sepuluh Perintah Tuhan. Diskusi Dekalog selalu didampingi narasumber. Dekalog pertama yang saya saksikan adalah episode keduanya. Diskusinya didampingi Trisno S. Sutanto yang menjelaskan film dengan baik sekali. Biasanya dalam diskusi apapun saya tak pernah berani mengemukakan pendapat. Namun ketika itu jantung saya berdegup kencang. Ada hal yang ingin saya ungkapkan, dan saya tahu tidak akan bisa tenang sebelum mengungkapkannya. Sejak itu saya rutin menghadiri pemutaran film yang digerakkan Bang Tobing dan kawan-kawan. Ketika pada 1 Januari 2011 mereka mendirikan LayarKita, saya pun mengikuti mereka.

Saat ini semakin mudah mendapatkan film dari berbagai belahan dunia; film-film dengan bahasa yang tidak kenal. Menonton film pun menjadi sebuah kegiatan yang dilakukan sendirian. Kadang-kadang ketika menonton film sendirian, di tengah film saya sering bingung dan tak tahu harus bertanya kepada siapa. Di sisi lain, menonton film bersama komunitas mengajak saya melihat sebuah film sambil menerima pandangan orang lain terhadap film tersebut. Sehingga akhirnya saya mendapat tidak hanya apa yang saya lihat saja, tetapi juga apa yang orang lain lihat.


Sabtu, 07 Januari 2012

Never Let Me Go

Beberapa hari lalu saya datang ke Perpustakaan Batu Api jam satu siang. Tidak seperti biasa udara sejuk karena di sana hujan baru berhenti. Masuk lewat pintu samping, saya meletakkan tas serta jaket di dudukan kayu di atas lantai semen. Buku pertama di rak yang menarik perhatian adalah sebuah novel klasik paperback terbitan Penguin. Tidak hanya hurufnya kecil dan berdempet, buku itu banyak mengandung kata sulit. Saya lalu mengambil antologi cerpen Cuk karya Vincent Mahieu. Selain Mahieu, penulis ini juga dikenal sebagai Jan Boon dan Tjalie Robinson. Entah apa alasan ia memiliki banyak alias, apakah tidak menimbulkan kebingungan? Saya pernah meminjam antologi Mahieu atau Boon atau Robinson yang lain berjudul Cis. Tulisannya kental sekali, saya suka! Salah satu cerpennya berjudul Selamat Tinggal Josephine. Kami pernah membacanya bersama di museum. Tema hari itu adalah menulis cinta pertama.

Tiba-tiba Bang Anton masuk dari pintu depan. Melihat saya, ia menepuk lutut saya. Rasanya lucu karena kami belum begitu akrab. Saya semakin sulit membaca karena jadi ingin bicara dengannya. Jadi ingin akrab. Apa topik pembicaraan yang cocok? Buku? Seperti yang dibicarakannya dengan 943725 pengunjung lainnya? Sering saya mendengar Bang Anton mengobrol tentang pacar dan pandangan politik. Namun saya jelas tak punya keduanya. Apa yang ingin saya bicarakan dengannya? Cita-cita mendirikan perpustakaan juga. Tak berapa lama Teh Arum datang. Di antara pasangan suami-istri ini saya lebih akrab dengan si istri karena kami sering bertemu pada pameran buku terakhir di Landmark. Teh Arum menjaga stand Penerbit Obor bersama teman saya, Sesti. Ia pun menanyakan Sesti. “Sesti sakit,” jawab saya. “Sakit apa?” “Demam, meriang, muntah-muntah. Kemarin baru mau ke dokter,” jawab saya lagi. “Apa kata dokter?” Saya menggeleng. Saya jadi ikut penasaran apa kata dokter. Mengembalikan Cuk, di rak buku saya menemukan Never Let Me Go yang versi filmnya mengharu biru. Saya pun mengambil buku itu.

***

Never Let Me Go mengikuti pasang surut hubungan tiga sahabat: Kathy, Tommy, dan Ruth. Setiap kejadian diceritakan melalui sudut pandang Kathy yang paling kalem di antara ketiganya. Narasi Kathy maju mundur antara masa kini dan masa lalu. Masa kininya sebagai 'perawat' dan masa lalu yang mereka bertiga habiskan di Hailsham.


Sekilas Hailsham seperti sekolah asrama dalam buku-buku berseri Enid Blyton. Tidak sulit membayangkan Kathy, Tommy, dan Ruth sebagai Sally, Darrell, dan Alicia dari serial Mallory Towers. Kejadian seru di awal Never Let Me Go tidak jauh dari dinamika sekolah: duduk di kelas, guru eksentrik, kelompok rahasia, ledakan amarah Tommy, ketegasan kepala sekolah, dan aneka peristiwa yang mempererat persahabatan anak-anak. Namun semakin jauh kita membaca, semakin sering muncul keganjilan yang membuat kita ragu kalau Hailsham memang seperti Mallory Towers. Ada terlalu banyak rahasia: Mengapa anak-anak ini tidak memiliki nama keluarga? Mengapa Miss Lucy mengatakan mereka tidak mungkin tumbuh menjadi aktor atau penjaga toko? Mengapa di Hailsham 'guardian' menggantikan kata 'teacher'? Salah satu rahasia diungkap di sampul belakang buku ini: “Di sanalah manusia dikloning agar bisa menyediakan organ-organ yang dibutuhkan oleh penduduk dunia luar yang sakit.”

Singkat kata, Kathy, Tommy, dan Ruth sebetulnya adalah klon-klon manusia. Sebelum dewasa, mereka hidup selayaknya siswa-siswi sekolah biasa, bahkan mungkin lebih beruntung. Hailsham bukan sekadar ladang organ, tempat ini juga menjamin semua anak mendapatkan gizi, perhatian, dan pendidikan yang penting selama masa tumbuh kembang. Seorang dokter selalu datang memeriksa kesehatan mereka setiap minggunya. Anak-anak bahkan didorong untuk berkesenian. untuk setiap puisi, gambar, maupun prakarya yang dikerjakan, mereka mendapatkan kupon 'Sale' dan 'Spring Exchange'. Keduanya merupakan semacam bazar yang populer karena merupakan satu-satunya cara bagi anak-anak untung memperoleh barang-barang pribadi. Yang terpenting dalam kurikulum Hailsham adalah sejak dini anak-anak diinternalisasikan kewajiban mereka saat dewasa: mendonorkan organ-organnya sampai mati. Kematian mereka itu disebut dengan 'completion'.

Sampai di sini, mungkin beberapa dari kita menyangka bahwa yang menjadi konflik adalah bagaimana tiga tokoh utama berusaha lepas dari kewajiban donor organ; perjuangan melawan sistem represif. Rupanya tidak. Sebagaimana penghuni Hailsham lainnya, Kathy, Tommy, dan Ruth tumbuh besar tanpa mempermasalahkan kewajiban dasar mereka. Saat mulai dewasa, kegalauan ketiganya justru muncul dari hal-hal yang juga dipertanyakan manusia kebanyakan. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Dari mana kita berasal?” “Bagaimana seharusnya kita hidup?” “Ke mana semua berakhir?” Juga sama seperti manusia kebanyakan Kathy, Tommy, maupun Ruth segera menemukan bahwa tak ada satu jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka mulai menciptakan teori-teori sendiri.


Salah satu alasan saya membaca Never Let Me Go adalah saya pernah menyaksikan versi layar lebarnya. Dan film itu sangat menyentuh. Di dada saya seperti ada banyak simpul setelah menonton Never Let Me Go. Warna yang digunakan berkesan luntur dengan cipratan warna merah dan hijau di sana sini. Aktor aktrisnya pun bermain baik. Kathy diperankan Carey Mulligan, sementara Andrew Garfield dan Keira Knightley masing-masing memerankan Tommy dan Ruth. Pada film, salah satu momen paling berkesan adalah sewaktu pertama kali melihat Tommy berlari menyambut Kathy dan Ruth setelah melakukan donor keduanya. Mereka bertiga akan mengadakan perjalanan ke pinggir pantai. Tommy botak dan semakin kurus, langkahnya pincang, tetapi semangat dan kepolosannya tetap sama.


Pada buku, saya paling menikmati mengikuti rangkaian peristiwa dari narasi Kathy. Dari narasinya saja, pembaca bisa mengira mengapa Tommy dan Ruth betah bersahabat lama dengan Kathy. Gadis ini adalah seorang pengamat baik. Menyangkut persahabatannya dengan Tommy dan Ruth, Kathy menyimak betul-betul setiap percakapan, gerak-gerik, dan perubahan raut wajah kedua temannya. Inilah yang membuatnya tahu bagaimana cara menempatkan diri di posisi yang lain. Kathy memenangkan kepercayaan Tommy dan Ruth. Kalaupun ada kekurangan, bisa jadi itu adalah sikap Kathy yang kurang kritis. Narasinya memberi gambaran yang dapat diandalkan mengenai diri dan persahabatannya, tetapi narasi itu tidak menjelaskan bagaimana dunia yang mereka tinggali bekerja. Mengapa mereka tidak melawan? Tidak lari dari takdir mereka? Tidak ada satu jawaban pasti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pada akhirnya, saya pikir Kathy, Tommy, dan Ruth menjalani kehidupan yang utuh. Sebagaimana pertanyaan pembaca, pertanyaan yang mereka ajukan mungkin tidak akan terjawab. Namun apa-apa yang sudah digariskan, teori-teori yang mereka temukan, serta pilihan-pilihan yang mereka ambil, semuanya menentukan bagaimana mereka memaknai kehidupan masing-masing.

***

Tiga puluh dua halaman pertama Never Let Me Go saya baca di Batu Api. Saya betul-betul terhisap. Saya meminjam buku ini sebelum berubah pikiran lagi. Ketika saya menghampiri, pandangan Bang Anton tertuju pada layar netbook-nya. Di atas meja ada buku tulis yang penuh dengan tulisan tegak bersambung. Sesti pernah bercerita kalau Bang Anton suka menulis keyword atau informasi menarik yang ditemukannya dari buku. “Pinjam. Seminggu. 5611,” ujar saya ketika perhatian Bang Anton beralih kepada saya. Wajar kalau kami mungkin tidak akan pernah akrab. Saya kulkas begitu. Biasanya Bang Anton kerap memberi komentar singkat terhadap buku yang saya pinjam. Namun kali ini Kazuo Ishiguro seperti tidak membunyikan lonceng apapun di kepalanya. Saya pun tidak tahu apa-apa tentang penulis Never Let Me Go ini selain bahwa bukunya yang lain, Remains of the Day, sudah dibuat versi filmnya oleh Merchant-Ivory Production.

Kemarin, sebelum menulis ini, saya iseng-iseng mencari tahu lebih banyak tentang Kazuo Ishiguro. Terutama resensi media-media luar terhadap Never Let Me Go. Akan tetapi, satu-satunya tulisan yang saya baca habis adalah wawancara penulis ini dengan The Paris Review. Wawancara itu memuat sedikit sekali pandangan si penulis terhadap karyanya. Pertanyaan yang diajukan adalah tentang masa kecil, remaja, pengalaman Ishiguro sebagai musisi, sampai mendaftar kelas penulisan kreatif. Pokoknya hal-hal pribadi. Ishiguro sepertinya nyaman menjawab semua pertanyaan itu. Jawabannya panjang-panjang. Mungkin saat mengembalikan Never Let Me Go besok, saya akan menceritakan beberapa jawaban kepada Bang Anton.