Selasa, 02 Agustus 2016

Rina, Rudi, dan Erika

Hanya dari caranya menjawab sapaan, Rina bisa mendengar kakaknya, Rudi, sedang tidak bersuka hati. Meskipun jawaban itu diucapkan dengan nada sopan, "Halo Rina." Suara Rudi hari itu lebih dalam daripada biasanya. Dan sejak kapan pula mereka bersopan santun seperti itu? Tidak pernah.

Ada juga getar pada suara Rudi yang membuat Rina menahan pertanyaan, "Burung apa yang sedang hinggap di kepalamu?" Rina hanya duduk di sebelah Rudi dalam diam, sambil bernapas ringan. Tidak mengganggu, tapi cukup memberi tahu bahwa dia tidak akan ke mana-mana.

Ketika Rudi mulai membuka percakapan Rina mendengarnya dengan seluruh tubuhnya. Raut wajahnya menunjukkan perhatian ... lalu kelegaan, ketika suara Rudi mulai terdengar seperti yang diingatnya.

***

Erika takut menjadi hoarder. Siang tadi dia baru membaca kesaksian seorang laki-laki yang pernah tinggal bersama hoarder. Laki-laki itu menulis, awalnya dia sepakat tinggal bersama teman serumahnya karena  dia mendapatkan kamar luas di sebuah rumah yang dekat dengan kantornya. Harga sewanya pun jauh lebih murah daripada sewa pemondokan lain di lingkungan tersebut. Namun harga itu mulai terasa mahal, ketika setiap hari dia harus berhadapan dengan pesingnya kencing kucing, ruangan bersama yang kian menyempit, dan segala kerepotan ketika suatu hari teman serumahnya jatuh sakit.

Beberapa tahun ini, Erika hidup sendirian. Dan sejak dulu, dia bukanlah orang yang paling rapi sedunia. Erika biasa membiarkan barang-barangnya tergeletak di lantai supaya mudah ditemukan. Dia menyapu rumah satu minggu sekali, dan mengepel hanya jika ada yang tumpah. Erika ingat sebelum ke kantor pagi tadi, dia meninggalkan begitu saja piring-piring kotor yang tidak tercuci dari dua malam sebelumnya. Dia pun tidak pernah merasa terganggu dengan suara tikus dari dapur. Erika menganggap tikus adalah teman hidup yang cerdas dan mandiri. Mereka tidak perlu disayang maupun disuguhi makanan. Seandainya saja tikus bisa mengurus pemakamannya sendiri.

Dalam perjalanan pulang kantor, Erika acapkali memungut dan mengumpulkan sampah kertas yang ditemukannya di jalan. Bekas bungkus roti, layangan yang sobek, dll. Dia percaya ada sesuatu yang bisa dibuat dengan bahan-bahan tersebut, meskipun dia belum tahu apa. Filosofi serupa juga diterapkan Erika ketika berhubungan dengan laki-laki. Sekalipun sebagian di antara mereka telah mematahkan hatinya, tapi Erika masih saja berprasangka baik. Dia senantiasa yakin bahwa selalu ada alasan di balik setiap tindakan yang tidak dia mengerti. Bahwa pada dasarnya semua pacarnya baik, dan kenangan tentang mereka mesti dipelihara.

Namun, hari itu, setelah membaca artikel tentang hoarder, Erika pulang kantor secara terburu-buru. Dia berniat membersihkan semuanya. Dimulai dari piring kotor yang belum dicuci sejak dua hari lalu.

***

Rina tahu bahwa dia dikaruniai telinga yang istimewa. Ketika mendengar orang lain bicara, dia tidak hanya tahu apa yang sedang diucapkan orang itu. Dia juga menangkap bagaimana suasana hati mereka. Rina pun menanggapi cerita orang lain sesuai dengan apa yang diketahuinya.

Yang membuat Rina sedih ialah: dia jarang menemukan orang lain yang memiliki telinga dengan kapasitas serupa telinganya. Padahal Rina termasuk orang yang sulit menyampaikan perasaannya secara lisan. Dia merasa kalimat-kalimatnya mengambang, seperti balon gas yang tidak sengaja terlepas ketika hendak diberikan kepada orang lain. Dalam rapat, sebelum menyampaikan pendapat, Rina merasa segundah nenek-nenek yang lututnya gemetaran ketika sadar bahwa untuk sampai ke rumahnya beliau harus menyeberangi Jalan Soekarno Hatta di Bandung seorang diri. Di tengah sebuah pernyataan rasa suka, tiba-tiba Rina merasa suaranya berubah jadi suara seekor nyamuk yang terbang menghindari sabetan raket listrik.

Tidak heran, kadang Rina pun memutuskan puasa bicara. Pesannya tidak pernah diterima dengan mulus, mengapa susah-susah? Kalau sudah begini, satu-satunya yang bisa mengundang kembali suara Rina adalah Rudi. Telinga Rudi memang tidak sepeka telinga Rina. Rudi akan mengajukan banyak pertanyaan dan meminta Rina berkali-kali mengulangi ceritanya.  Namun Rudi punya mata yang tidak cuma melihat. Tatapan Rudi adalah batu mungil yang menjaga balon gas Rina tidak tiba-tiba terbang. Anak SMK ramah yang dengan senang hati mengantar nenek-nenek menyeberang. Ruangan lapang yang bisa dihuni manusia dan nyamuk tanpa saling mengganggu.

***

(Cerita ini mulai ditulis di pertemuan Couchsurfing Bandung Writer's Club (28/7), temanya Bingung. Sepuluh menit pertama, kami menulis tema apapun yang terlintas di benak kami. Quantity over quality. Setengah jam berikutnya, kami memilih salah satu dari tema itu yang mau dikembangkan. Kalau berhenti di tengah jalan, tinggal ganti ke tema yang lain.

Saya merasa, seringkali saya dibuat bingung dengan banyaknya pilihan. Juga merasa grogi ketika harus membuat satu cerita dengan benar. Padahal ada banyak cara dan kesempatan untuk melakukan sesuatu. Kalau saya gagal membuat cerita di kesempatan yang satu, masih ada kesempatan yang lain. Kalau saya gagal membuat cerita dalam bentuk tertulis, masih ada cerita yang disampaikan dalam bentuk yang lain. Jadi sebetulnya grogi itu tidak perlu, dan bingung memang untuk dihadapi.

Klab Nulis selanjutnya diadakan Kamis (4/8) di D'Cubes, Jalan Dipatiukur Bandung, pada jam 7 malam.)

Kamis, 28 Juli 2016

Padahal

"Besok gue bakalan dateng kalo gak ujan," katamu.

"Aku juga," ujarku setuju.

Padahal kita berdiri di belahan kota yang berbeda.

Dan besok tidak sama dengan hari ini.

Selasa, 28 Juni 2016

Pan

Telah meninggal dunia pada usia 94 tahun, Pan Balang Tamak. Pan, begitu dia dipanggil oleh keluarga dan kawannya, merupakan suami yang baik dan senantiasa menyayangi dengan cara istimewa. Pan tidak pernah memberi bunga maupun kalimat yang berbunga-bunga. Namun selalu memastikan bahwa lumbung padi keluarganya terisi, istri dan anaknya tidak pernah kelaparan, dan sesekali memasakkan keluarga kecilnya bebek panggang yang resepnya dirahasiakan.

Meskipun kadang-kadang berbuat sesuatu yang membuat anjing dan hewan peliharaannya yang lain terluka, perbuatannya tersebut tidak pernah tanpa sebab-musabab. Setiap luka dibuat untuk tujuan yang lebih besar. Dan ketika waktu luangnya berjumpa dengan cuaca cerah, Pan Balang selalu mengajak para anjingnya berpetualang.

Pan Balang Tamak mungkin bukanlah nama yang menimbulkan kesan baik bagi orang yang baru berkenalan dengannya. 'Pan' artinya bapak, 'balang' belalang, dan 'tamak' maksudnya rakus. Bisa dibilang, namanya berarti bapak-bapak rakus tukang lompat ke sana kemari. Namun dengan bangga Pan Balang Tamak selalu menyebutkan namanya secara lengkap. Dia percaya, segala hal di dunia bisa diucapkan dengan konotasi menghina. Bahkan hal-hal baik sekalipun. Untuk itu, mengapa harus menutupi nama yang dipilihkan orangtuanya?

Pemakaman Pan tidak dihadiri oleh kepala desa, tapi dia pergi dengan diiringi isak tangis seorang istri, enam pasang anak dan menantu, serta tiga puluh empat cucu yang menyayanginya. Genangan air mata mereka membasahi tanah yang mereka pijak hingga sore harinya.

***

(Cerita itu ditulis pada pertemuan Couchsurfing Writer's Club Bandung, Kamis (23/6) lalu. Temanya, cerita rakyat nusantara. Idho dan saya berbagi tugas host. Idho memilih tempat, menyiapkan cerita rakyat dan memimpin jalannya pertemuan. Sementara itu, saya memeriksa tempat, membuat undangan, dan menyiapkan hadiah bagi penulis cerita terfavorit. Sementara Tada memproduksi Batu Menangis: The Musical, Ais menuturkan kisah Timun Mas dari sudut pandang raksasa yang sebetulnya hanya ingin si Timun bersekolah. Cerita lain tentang Pan Balang Tamak bisa dilihat di sini: http://dongengceritarakyat.com/kumpulan-cerita-cerita-rakyat-dari-bali/)