Selasa, 19 Mei 2009

Cerita Cinta Canggung

Sekitar dua minggu yang lalu, seorang teman merekomendasikan saya buku kumpulan cerpen berjudul No One Belongs Here More Than You karya Miranda July. Sementara itu kurang lebih sebulan sebelumnya, saya menonton film Skotlandia berjudul Hallam Foe. Ada benang merah yang menghubungkan keduanya (selain warna kuning pada poster film dan sampul buku), yaitu baik No One Belongs Here More Than You maupun Hallam Foe sama-sama menuturkan cerita cinta canggung.



Pertama-tama mari berkenalan dengan Miranda July Ia adalah seniman pertunjukan, musisi, aktris, penulis, dan sutradara film. (Langsing dan cukup cantik pula.) Keduanya orangtuanya merupakan penulis asli California yang memiliki sebuah penerbitan kecil. Saya pertama kali bersentuhan dengan karyanya melalui Me and You and Everyone We Know, film yang sukses memenangkan penghargaan di Festival Film Cannes dan Sundance. Kualitasnya yang paling menyentuh saya adalah bagaimana film tersebut mengangkat seksualitas dengan cara yang sensitif dan tidak berkesan vulgar, tetapi malah uplifting.

Miranda July

Berangkat dari sana, membaca No One Belongs Here More Than You seperti menikmati kelanjutan Me and You and Everyone We Know di mana tema besarnya belum terlampau begitu jauh: perjuangan seseorang keluar dari keterisolasiannya melalui pencarian cinta. Perjuangan seorang wanita dalam mengajarkan para lansia berenang di dapur rumahnya, pedofilia yang ditaksir homo, sampai sepasang suami istri yang mengetahui bahwa menjadi figuran film merupakan level selanjutnya dalam kehidupan rumah tangga mereka. Kecanggungan dan imajinasi (karakter-karakter) Miranda July, seolah membangun realitas baru di mana hal-hal yang tampak tragis pun menjadi manis. Namun, itu tidak mengurangi realitas dalam karyanya. Salah satu bagian yang saya suka:

I'll tell you about Vincent. He is an example of a New Man. You might have read the article about the New Men in True magazine last month. New Men are more in touch with their feelings than even women are, and New Men cry. New Men want to have children, they long to give birth, so sometimes when they are crying it is because they can't; there is nowhere for a baby to come out of. New Men just give and give and give
.

Disambung dengan ini:

And it struck me that maybe True magazine had been wrong. Maybe there are no New Men. Maybe there are only the living and the dead, and all those who are living deserve each other and are equal to each other.

Saya setuju dengan Josh Lacey, peresensi dari The Guardian, yang menyatakan bahwa kelemahan buku berisi 16 cerita pendek ini adalah kurangnya variasi dalam suara narasi yang semuanya menggunakan sudut pandang orang pertama. Semuanya ya suara Miranda July dengan segala keterbataannya. Ini tidak masalah apabila yang ditulis adalah cerita panjang. Saking kesengsemnya dengan karya Miranda July, Josh berharap suatu saat nanti perempuan serba bisa itu masih menyempatkan diri menulis novel.

Sekarang berpindah ke Hallam Foe. Tokoh utama dari film ini adalah seorang remaja laki-laki yang menanggung beban psikologis akibat kematian ibunya yang tidak wajar. Namanya Hallam Foe (diperankan Jamie Bell, yang juga bermain di film Billy Elliott). Hallam lantas tumbuh menjadi remaja penyendiri yang meluangkan waktunya di rumah pohon sambil mengintip perilaku orang-orang, sampai suatu hari karena satu dan lain hal ia mesti meninggalkan lingkungan rumahnya. Hallam pun hijrah ke Edinburgh.

Jamie Bell sebagai Hallam Foe

Sebagai penggemar serial The Sunday Philosophy Club-nya Alexander McCall Smith, saya sudah lama penasaran dengan kota Edinburgh. McCall Smith memang menggambarkan Edinburgh merupakan kota di mana warganya saling mengenal satu sama lain, meskipun begitu dalam film ini kota itu juga divisualisasikan sebagai kota lumayan besar yang memiliki temponya sendiri. Ada energi yang menyusup keluar di antara bangunan-bangunan tua bergaya gothic itu.

Di Edinburgh, Hallam akhirnya terlibat hubungan cinta dengan seorang wanita yang mirip dengan ibunya (diperankan Sophia Myles, bermain juga dalam Art School Confidential). Di sinilah kecanggungan/ke-kinky-an film ini dimulai. Sophia Myles rupanya tidak kalah anehnya dari si Hallam. Kombinasi keduanya menjadikan film ini lucu dan enak ditonton. Sekalipun ada adegan seksual frontal. Pada akhirnya, jalan yang harus ditempuh Hallam berujung pada penerimaannya atas kematian ibunya. Saya betul-betul menyukai film ini.

Tentang cerita cinta yang canggung; punya nggak sih ingatan tentang pengalaman cinta-cintaan yang membuat wajah memerah begitu ingatan itu muncul lagi secara random? Saya punya banyak, dan tidak akan dibahas di sini. Percayalah, baru menulis ini saja saya sudah merasakan hawa panas menguar dari pipi saya.

3 komentar:

  1. Hahaha ...

    kisah cinta itu variasinya banyaaaakkkk ...banget. Mulai dari yg canggung, sampe yg santai. Dari yg filosofis, sampe yg cheesy.

    Iya, cerita2 Miranda July emang keren. Mungkin kalo nonton, gue bakal suka juga, ya, Hallam Foe ...

    BalasHapus
  2. Mas Andika, sori lancang, dapetin bukunya di mana ya? Lagi nyari. Hehe.

    BalasHapus
  3. Saya pinjam di perpustakaan Kineruku di Bandung.

    BalasHapus