Senin, 10 Agustus 2009

Kaus Kaki

Laci lemari baju saya penuh dengan kaus kaki yang tidak ada pasangannya. Modelnya bermacam-macam: tipis, tebal, panjang, atau pendek. Hampir semuanya sudah termakan waktu. Ada yang karetnya kendor dan kainnya berbintil-bintil. Namun, berhubung kebanyakan warnanya sama (hitam), saya santai-santai saja bila kaus kaki kanan dan kaki kiri saya saling berlainan. Sepasang kaus kaki lengkap ialah suatu keistimewaan.

Tiap kali bertemu dengan orang baru, saya merasa seperti membuat dan mendapatkan sepasang kaus kaki baru. Setiap pertemuan menimbulkan kesan, atau perasaan. Perasaan saya pada orang itu ibarat sepotong kaus kaki untuk disimpannya, dan sebaliknya perasaan orang itu terhadap saya merupakan sepotong kaus kaki yang mesti saya jaga. Bila bertemu saya dan teman baru saya akan memiliki sepasang kaus kaki yang sama-sama kami pakai sebagai pelindung diri. Dunia penuh dengan ancaman, tetapi saya yakin ancaman itu bisa jadi adalah konteks dari pertemuan kami.

Dalam makna yang sebenarnya, kaus kaki harus dipelihara supaya tetap nyaman dipakai. Mencucinya mesti hati-hati, jangan sampai kaos kakinya luntur, melar, atau mengecil. Dijemurnya juga berdekatan saja, agar tidak sulit memasangkannya ketika pelipatannya nanti. Namun berteori memang gampang, ketika beradu dengan realita palingan juga kalah. Sering terbersit di pikiran, Kaus kaki itu penting nggak sih? Harganya paling sepuluh ribu tiga ... Meskipun demikian, dalam maknanya yang tidak sebenarnya, seseorang tidak bisa begitu saja membeli kaus kaki. Demi mendapatkannya, semua harus mengusahakannya. Seringkali saya putus asa karena merasa tidak memiliki mata uang yang sama. Sebetulnya ironis, karena pada kalimat sebelumnya saya berpendapat bahwa seseorang tidak bisa begitu saja membeli kaus kaki.

Awal pekan lalu saya menghadiri sendirian sebuah promo musik klasik dan acara nonton film pendek di Radio Maestro, Bandung. Ada masing-masing satu teman yang sebetulnya saya inginkan hadir menemani di kedua acara itu. Saya kenal baik dengan keduanya dan yakin bahwa acaranya sesuai dengan minat mereka. Namun saya urung mengajak karena takut ditolak, dan yang selanjutnya terjadi adalah saya mengajak seseorang yang sudah dipastikan akan menolak dengan segala macam alasan. Seseorang yang diajak semata-mata karena saya lebih nyaman dengan penolakan daripada penerimaan. Kalaupun secara mengejutkan seseorang itu mengiyakan, tidak terbayang di benak saya bagaimana kami nantinya berinteraksi.

Perasaan dan pengalaman tidak nyaman ini terus mengemuka sampai akhir pekan, menjelang menonton resital gitar klasik bersama seorang teman yang seharusnya saya ajak ke Radio Maestro. Saya kangen menghabiskan waktu bersamanya. Percaya atau tidak, sebetulnya kami sudah berencana menonton resital sama-sama sejak tiga minggu yang lalu. Bagi saya, resitalnya nomor dua, hang out-nya itu yang nomor satu. Meskipun dua lembar tiket sudah dalam genggaman, saya kuatir kalau-kalau si teman membatalkan acara jalan pada saat-saat terakhir. Tiba-tiba muncul pertanyaan tentang kesungguhannya menghabiskan Malam Seninnya dengan saya.

Dengan hati yang mendung, saya mandi sebelum pergi ke tempat rendezvous. Ketika mengambil ikat pinggang, tidak sengaja tangan saya menyentuh sepotong kaus kaki hitam kecil yang tersembunyi di sudut lemari. Laci kaus kaki pun dibuka. Pandangan lantas tertuju pada sepotong kaus kaki tanpa pasangan yang identik dengan sepotong kaus kaki di tangan.

Saat itu saya tahu kalau semuanya akan baik-baik saja.

1 komentar:

  1. Metafornya pas banget, Dik ...

    Gue suka tulisan ini.

    BalasHapus