Minggu, 15 Maret 2009

A Jihad for Love, Antara Islam dan Homoseksualitas

Meskipun seharusnya diam di rumah dan mengerjakan take home exam mata kuliah Kajian Strategis, saya menghabiskan sore hari Sabtu kemarin (14/3) dengan bepergian ke sana dan ke mari. Totalnya ada tiga acara yang sempat saya kunjungi: pembukaan ruang interaksi seni 'Titik Oranje' di rumah keluarga besar Nia, pertemuan mingguan writers' circle di toko buku Reading Lights, dan pemutaran film di Tobucil. Karena laporan tentang jalannya acara pertama dan kedua sudah bisa dilihat di sana dan di situ, maka saya akan langsung menceritakan acara ketiga: menonton pemutaran film A Jihad for Love di Tobucil.



A Jihad for Love (2007) adalah film dokumenter yang membahas tentang hubungan antara Islam dan homoseksualitas. Film ini disutradarai oleh Pervez Sharma, seorang sutradara India gay muslim. Menurut data yang saya peroleh dari internet, dokumenter ini difilmkan di 12 negara dan sembilan bahasa yang berbeda. Sayang, saya datang terlambat sehingga cuma bisa melihat lima negara saja. Sharma mewawancarai para muslim homoseksual yang berdomisili di Arab Saudi, Iran, Irak, Pakistan, Mesir, Bangladesh, Turki, Perancis, India, Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Inggris. Ia mencari subyek wawancaranya melalui internet, dan menerima sekian ribu e-mail tanggapan.

Setelah melihat homoseksual muslim dari berbagai negara, sedikit banyak saya dapat membanding-bandingkan kehidupan mereka. Misalnya di Turki, sepasang lesbian bisa berpelukan mesra di depan mesjid tanpa ada konsekuensi hukum dari pemerintah, sedangkan di Iran, boro-boro berpelukan, seseorang yang ketahuan homoseksual akan ditangkap dan keluarganya akan terancam keselamatannya.

Ada beberapa cerita yang masih lekat di benak saya sampai saat ini, salah satunya adalah cerita seorang imam di Afrika Selatan yang homoseksual. Film ini mendokumentasikan bagaimana usaha imam tersebut dalam menjelaskan homoseksualitas di dalam sebuah mesjid. Bahasan tentang Islam dan homoseksual tentu tidak terlepas dari adzab yang menimpa kaum Sadoum dan Amourah, surat Hud 74-83. Si imam berusaha menjelaskan bahwa alasan Tuhan menimpakan adzab bukan karena Sadoum dan Amourah homoseksual, melainkan karena mereka adalah bangsa yang jahiliyah.

Hal tersebut mengingatkan saya kepada pembicaraan dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu. Kami membahas tentang dosa, homoseksualitas, dan kitab suci. Saya menangkap, teman saya mengimani bahwa kitab suci memang merupakan firman Tuhan yang turun untuk menyelesaikan berbagai persoalan dengan konteksnya masing-masing. Sementara saya percaya kitab suci adalah hasil dari kecerdasan manusia, kecerdasan yang dianugerahkan oleh Tuhan. Sulit memercayai bahwa kitab suci memang merupakan firman Tuhan yang secara konkret, per ayat, diturunkan bagi manusia. Dengan kata lain, saya percaya bahwa ada sentuhan manusia di dalam penulisan kitab suci, sentuhan yang lebih dari sekadar penafsiran. Maka saya tidak setuju ketika teman saya mengatakan bahwa konteks adzab Sodom dan Gomorrah adalah karena mereka merupakan bangsa yang biadab. Menurut saya konteks cerita itu adalah agar para pengiman kitab suci lantas tidak menyukai sesama jenis. Kebiadaban mereka lebih merupakan asosiasi dari fakta bahwa Sodom dan Gomorrah adalah bangsa yang homoseksual. Ini merupakan pendapat personal, tentu saja.

Kembali ke cerita imam di Afrika Selatan, pada akhirnya ia menyatakan bahwa bagaimanapun sulit bagi seorang homoseksual mencari posisi di dalam Islam. Kitab suci tegas dalam hal ini. Yang bisa dilakukan adalah berijtihad, berusaha mendapatkan pemahaman dengan berpasrah diri kepada Tuhan.

Kisah lain yang menarik adalah tentang pasangan gay di Iran yang ditangkap karena ketahuan gay dan melangsungkan pernikahan. Ceritanya setelah enam tahun berhubungan, suatu hari mereka memutuskan untuk mengadakan pernikahan budaya Iran. Lengkap dengan segala ornamen dan kegiatan-kegiatan seremonialnya. Acaranya sukses, pasangan ini mengingatnya sebagai hari yang membahagiakan. Masalah muncul ketika dokumentasi dari pernikahan mereka jatuh ke tangan orang yang salah, dan akhirnya mendarat di kantor kepolisian. Dengan dokumentasi pernikahan sebagai bukti, mereka ditangkap, disiksa, dan akhirnya dibuang ke Turki. Namun, di negara sekuler itu pun hidup mereka tidak tenteram. Mereka mengkhawatirkan nasib keluarganya di Iran. Cerita ini mengingatkan saya dengan pidato Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di Columbia University, New York, September 2007. Dalam pidatonya itu Ahmadinejad mengatakan bahwa tidak ada homoseksual di Iran (!!!), perkataan itu kontan disambut tawa dan cemooh dari para mahasiswa yang hadir. Ini klipnya:



Perhatikan 2:53. Ini transkripnya:
MR. COATSWORTH: (Off mike) -- and drug smugglers. The question was about sexual preference and women. (Applause.)
PRESIDENT AHMADINEJAD: In Iran, we don't have homosexuals like in your country. (Laughter.) We don't have that in our country. (Booing.) In Iran, we do not have this phenomenon. I don't know who's told you that we have it. (Laughter.)

A Jihad for Love: jihad biasanya didefinisikan sebagai suatu perjuangan fisik demi menegakkan ajaran Tuhan. Makna jihad dalam judul film ini sebetulnya lebih bersifat personal: bagaimana sekumpulan manusia berjuang mencari penerimaan atas homoseksualitas mereka di dalam agama Islam. 'Love' di sini maknanya bukan hanya kasih sayang yang berasal dari pasangan sesama jenis kelamin, melainkan juga kasih sayang yang berasal dari Tuhan, yang eksistensinya seringkali direpresentasikan melalui ajaran agama.

It's really a depressing thought, di satu sisi ajaran agama adalah seperangkat ajaran yang diyakini kebenarannya sehingga dijadikan sebagai way of life, tetapi di sisi lain apakah seseorang bisa menganut ajaran agama tertentu dengan taat apabila preferensi seksualnya saja tidak diperbolehkan dalam agama tersebut? Menghadapi kondisi seperti ini biasanya yang dilakukan adalah memilih untuk taat pada sejumlah ajaran tertentu dan mengabaikan ajaran yang lainnya. But if you pick and choose which tenets of a religion apply to you, is it still a religion? Saya ingat teman saya menganalogikan ajaran agama/kitab suci sebagai meja yang penuh dengan makanan: ada yang kita suka dan ada yang kita tidak suka. Bisa saja kita terus memilih menyantap makanan yang kita suka, tetapi kita tidak akan pernah tahu seberapa besar manfaat dari memakan apa yang tidak kita suka.

Pemutaran A Jihad for Love merupakan bagian dari acara Klab Nonton Tobucil bekerja sama dengan Cinema Politica Indonesia. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan Klab Nonton bisa dilihat di sini.

13 komentar:

  1. Si imam berusaha menjelaskan bahwa alasan Tuhan menimpakan adzab bukan karena Sadoum dan Amourah homoseksual, melainkan karena mereka adalah bangsa yang jahiliyah.

    v
    v
    v

    Saya enggak tahu harus mengikuti yang mana karena sepertinya kitab itu multitafsir. Apalagi Al-Quran itu penuh dengan metafora.

    Yang perlu dikritisi adalah apakah mereka diberi azab karena bangsa jahiliyah atau jangan-jangan memang karena preferensi seksualnya? Lalu apakah si imam mengatakan seperti itu karena homoseksual atau memang apa adanya?

    Saya yakin bahwa manusia diciptakan dengan bentuk tubuh tertentu itu pasti ada alasannya. Misalnya jemari yang ketika berwudhu ternyata (sepertinya) sudah diatur sedemikian rupa sehingga bisa menyentuh titik2 tertentu pada muka. Bayangkan jika jemari panjangnya sama semua.

    Dan terutama proses penciptaan vagina dan penis, yang tentu ada maksudnya bahwa semua ada tempatnya. Bukan oral maupun anal.

    Saya mengkritisi bukan karena setuju dan tidak setuju. Tapi manusia memiliki kecenderungan akan membela dirinya (seperti si imam), jadi takutnya menjadi bentuk pembelaan diri ketimbang kenyataan yang sebenarnya.

    Nuhun.

    BalasHapus
  2. Komentar lu formal dan panjang sekali, Nia. Apakah ini betul2 elu? Hehehe.

    Apa yang lu bilang sih sebetulnya pada akhirnya akan kembali ke diri masing-masing orang. Karena bahkan sebetulnya kan nggak ada satu 'kenyataan yang sebenarnya'. Masing-masing orang punya 'kenyataan yang sebenarnya' sendiri2.

    BalasHapus
  3. Yah.. bener sih, tapi klise ya? Jangan2 yang klise2 itu bener. Hehe.

    BalasHapus
  4. Hmm... masing-masing orang punya kenyataan yang sebenarnya-> itu teh maksudnya apa ya?

    BalasHapus
  5. @Erick: Kira2 lu nangkepnya gimana, Rik?

    BalasHapus
  6. Hmm, gw nangkepnya kalau kenyataan ya hal yang ada sekarang, mati listrik, itu kenyataan, ada yang senang karena ga jadi ujian komputer, ada yang sedih karena ga bisa kerja, tp kenyataannya tetap: mati listrik.
    Atau mungkin mksd elu tiap orang punya pemahaman sendiri thd jalan idup mereka? Jadi ada yang biasa aja lihat temannya bercerai, tapi ada juga yang stress berat, kalau begitu kan kenyataannya sama, tapi dipahaminya berbeda. Bener engga?

    BalasHapus
  7. Kita tahu ada 'kenyataan' dan ada juga 'pemahaman personal terhadap kenyataan'.

    Tapi, kadang-kadang pemahaman personal kita kita anggap sebagai kenyataan, sementara apa yang mungkin merupakan kenyataan tanpa disadari kita anggap sebagai pemahaman personal orang lain.

    Akhirnya antara 'kenyataan' dan 'pemahaman personal thd kenyataan' tidak jelas batasannya, dan tidak jelas mana yang lebih penting. Kalau sudah begini apa signifikansi dari perbedaan 'kenyataan' dan 'pemahaman personal terhadap kenyataan'? Kadang-kadang kenyataan tertutupi oleh persepsi kita terhadap kenyataan itu. Efeknya bisa bagus tetapi juga bisa jelek. Hal ini terjadi.

    Ketika 'persepsi personal terhadap kenyataan' dianggap lebih penting daripada 'kenyataan sebenarnya', kenapa masing-masing manusia tidak boleh mempunyai 'kenyataan sebenarnya sendiri-sendiri'?

    Paham, kan?

    BalasHapus
  8. Mungkin 'kenyataan' mati listrik menurut Erick adalah kenyataan objektif, yang jelas2 bisa dilihat dan diakui bersama. Dan sepertinya semua kenyataan harus merujuk ke yang objektif.

    Misalnya: Ketika gue bekerja di tempat gue kerja sekarang. Selama masa kontrak, gue akan dinilai dari berbagai guru dengan berbagai level. Artinya, setiap guru yang mempunyai persepsi personal terhadap kenyataan akan keberadaan gue, mau tidak mau hasilnya harus membentuk pendapat yang objektif, kan?

    Gue jadi bertanya2 sama diri sendiri kok pendapat subjektif kayaknya hanya bermanfaat untuk meyakinkan bahwa manusia adalah makhluk yang berbeda dan unik dan berhubungan dengan perasaan.

    BalasHapus
  9. Kalau saya percaya bahwa semua pendapat itu subyektif. Kalaupun ada yang obyektif, pendapat itu muncul dari persamaan persepsi subyektif beberapa orang.

    Dan saya sebetulnya juga bosan dengan ucapan bahwa masing-masing orang berbeda dan memiliki keunikannya sendiri. Maksudnya, kalau semua orang 'unik' dan 'beda' lantas apa istimewanya 'unik' dan 'beda'? Bukannya semua orang 'unik' dan 'beda'?

    Sambil curhat soal kerjaan ya, Ni:P Btw komen lu udah gw save di wordpad... In case tiba2 nanti elu menghapusnya.

    BalasHapus
  10. Apaan tuh gue tiba2 menghapusnya. Gue tidak secemen itu laaah. Hahahahah.

    BalasHapus
  11. sampai kiamat pun, yang namanya homoseksual adalah haram hukunya...dan yang melakukannya akan dihinakan didunia dan di akhirat diadzab.tidak ada kebaikan dalam homoseksualitas...yang ada adalah kejelekan dan kehinaan.

    BalasHapus
  12. ALLAHU AKBAR!!

    Pergunakan ilmu sebaik2nya. Perdalam ilmu Islam sebelum membahasnya lbh lanjut. Hati2, krn setiap perbuatan atau perkataan akn dipertanggung jawabkan dihadapan-NYA kelak.

    BalasHapus
  13. Trus Gimana??

    BalasHapus