Rabu, 06 Oktober 2010

Bercermin dalam Rumah Arwah

Dua minggu setelah pemutaran film dan diskusi buku The House of the Spirits (23/8), Bang Tobing meminta saya menulis liputannya. Saya pun mengiyakan walaupun belum terpikirkan cara untuk meliput acara yang berakhir kontroversial itu. Masih segar di ingatan saya bagaimana saat itu hampir seluruh hadirin dikejutkan oleh muatan seksual eksplisit dalam film. Konsekuensinya kegiatan MYCinema dibekukan selama waktu yang belum ditentukan. “Apa perlu peristiwa tidak menyenangkan itu dibahas?” tanya saya dalam hati. “Apalagi filmnya termasuk biasa saja.” Akhirnya saya putuskan untuk meminjam Rumah Arwah, edisi Indonesia The House of the Spirits kepunyaan seorang teman. Setelah seminggu membacanya, kepala saya lebih ringan. Saya mulai mendapat ide bagaimana tulisan ini akan dibuat.

***

The House of the Spirits merupakan novel karya Isabel Allende yang pertama kali terbit tahun 1982. Dengan latar Amerika Selatan, novel ini bercerita tentang kehidupan keluarga Trueba. Keluarga ini memiliki kekayaan, pengaruh politik, dan yang terpenting: segenap anggota keluarga yang eksentrik. Ada Esteban Trueba, seorang tuan tanah kejam yang justru menjamin setiap pekerjanya bisa hidup berkecukupan. Meskipun kerap memperkosa perempuan desa, Esteban sangat memuja istrinya, Clara Del Valle. Clara bukan perempuan biasa. Layaknya dukun, ia mampu membaca masa depan, berbicara dengan arwah, bahkan menggerakkan benda tanpa perlu menyentuhnya. Esteban dan Clara memiliki tiga orang anak: Blanca, Jaime, dan Nicolas. Semuanya dengan keanehannya masing-masing. Blanca sakit-sakitan lantaran sejak remaja terlalu sering pura-pura sakit demi bisa bertemu kekasihnya. Sementara itu, Jaime adalah dokter kaku yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mengobati orang miskin. Di sisi lain adik kembarnya, Nicolas, adalah pemimpin aliran spiritual yang dibuatnya sendiri. The House of the Spirits menyoroti bagaimana keluarga Trueba menghadapi konflik domestik serta gejolak sosio-politik di negara tempat mereka tinggal.


Wartawan senior Kantor Berita Antara, Mohamad Sobary, menjadi pembicara dalam diskusi kali ini. “Keindahan novel The House of the Spirits terletak pada detail cerita, relasi antara yang satu dengan yang lain,” ujarnya. “Penulis menggambarkan suasana, dinamika, fenomena alam dan sosial dengan baik. Semuanya cukup digambarkan, bukan dijelaskan.” Tidak ada sebuah plot sentral dalam novel ini. Isabel Allende bertutur seperti seorang nenek yang mendongengi cucu-cucunya: lengkap, tak buru-buru, dan penuh deskripsi imajinatif. Dalam wawancaranya dengan majalah January, Allende menyatakan, “Selama bertahun-tahun, saya sering ditanyai: Bukumu tentang apa? Sulit menjawabnya. Bagi saya semua cerita dalam novel ini sama pentingnya. Setiap tokoh adalah protagonis. Saya tidak tahu mana yang tokoh utama dan mana yang tokoh pembantu.” Dengan begitu, pembaca sendirilah yang menentukan apa yang didapatnya usai menamatkan The House of the Spirits. “Belum ada orang Indonesia yang menulis dengan gaya seperti itu,” komentar Pak Sobary. Ia lantas membandingkan novel ini dengan My Name is Red yang ditulis penerima Nobel Sastra kelahiran Turki, Orhan Pamuk.

Sebelum diskusi buku digelar, para hadirin menyaksikan pemutaran film The House of the Spirits (1993) yang diadaptasi dari novelnya. Pembicara favorit MYCinema, Ronny P. Tjandra, turut hadir untuk membahas film ini. “Biasanya ada tiga alasan kenapa cerita novel dibuat menjadi film,” katanya. “Pertama, novelnya bagus. Kedua, novelnya laku. Ketiga, novelnya bagus dan laku. Misalnya, Laskar Pelangi dan The Da Vinci Code.” Dalam mengadaptasi sebuah novel, para pembuat film hampir selalu membuat penyesuaian-penyesuaian demi menghasilkan produk akhir yang sesuai dengan mediumnya. Contohnya, agar durasi film lebih singkat, seorang penulis skenario sah-sah saja ‘membuang’ beberapa adegan yang menurutnya tak berpengaruh pada keseluruhan cerita. “Sama seperti penulis yang bebas mengarang ceritanya, pembuat film juga punya kebebasan,” jelas Pak Ronny. “Saat menonton film yang diangkat dari novel, para pembaca berhak juga punya perbandingan.”

Bila melihat jajaran aktor dan aktris yang membintanginya, semestinya kualitas film The House of the Spirits tak perlu diragukan lagi. Esteban, Clara, dan Blanca berturut-turut diperankan oleh Jeremy Irons, Meryl Streep, dan Winona Ryder. Mereka bahkan didukung juga oleh Vanessa Redgrave, Glenn Close, Antonio Banderas, serta aktor watak Jerman, Armin Mueller-Stahl. Sayangnya potensi akting ini sia-sia karena jalan cerita yang lemah. Film The House of the Spirits kurang berhasil dalam menangkap keindahan detail yang ada dalam bukunya. Sutradara sekaligus penulis skenarionya, Bille August, justru menonjolkan storyline-storyline paling klise dalam novel ini: ketamakan, hubungan seks, dan perubahan iklim politik yang sedang terjadi. Celakanya, bahkan hal-hal itu pun digarap dengan melempem. Pak Sobary berpendapat, “Film ini disusun dalam sekuen-sekuen yang tidak berurut. Ia memotong fenomena-fenomena tanpa memberikan konteksnya. Film ini menggiring penonton kepada kedangkalan-kedangkalan.”

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan mengangkat tema ketamakan atau perubahan iklim politik. Namun tentu belum hilang dari ingatan penonton bagaimana mengganggunya film tentang demam minyak di Amerika Serikat, There Will Be Blood (2008), atau The Last King of Scotland yang mengisahkan hari-hari terakhir diktator Uganda. Di samping kedua film tersebut, The House of the Spirits kelihatan biasa saja. Film ini tak menawarkan hal yang baru maupun menyampaikan nilai yang masih relevan. Alih-alih menjadi sebuah film klasik, The House of the Spirits seperti diproduksi hanya untuk menarik perhatian para juri Academy Award; ketika pertama kali dirilis, film ini mungkin kelihatan bagus. Namun ia cepat terlupakan beberapa tahun selanjutnya. Siapa yang menyangka pemutarannya akan menyebabkan kegiatan MYCinema dibekukan?

Terkait dengan insiden lolosnya muatan seksual dalam film ini, Bang Tobing dan Dommy dari GKI Maulana Yusup meminta maaf kepada semua hadirin. “Ini merupakan kesalahan saya pribadi,” aku Bang Tobing. “Anggota tim yang lain mempercayakan pemutaran film ini kepada saya.” Ketika ditanyai Erwin mengenai bagaimana tanggapannya terhadap muatan seksual ini, Pak Ronny menyatakan, “Waktu menonton film kita harus mengerti kebudayaan yang ada di cerita. Apabila adegan seks di dalamnya tidak ada artinya, sebaiknya memang tidak ada. Namun adegan-adegan itu memang penting di dalam ceritanya.” Pak Sobary menambahkan, “Harus diingat bahwa Esteban memiliki gairah yang liar. Jangan mengharapkan adegan percintaan yang halus.”

***

Isabel Allende lahir di Peru, negara di mana ayahnya Tomás bertugas sebagai diplomat. Ayahnya menghilang saat ia berusia tiga tahun, ibunya Francisca lantas membawa Allende pulang ke negara asalnya, Chile. Semasa kecil kehidupan mereka sangat menderita. Kepada harian The Guardian, Allende berkata, “Mama hidup di bawah bayangan kakek, ia tidak mengenyam pendidikan. Ia memiliki tiga anak, diabaikan suaminya, dan tidak memiliki penghasilan. Satu-satunya cara mama untuk mendapatkan perhatian ayahnya ataupun orang-orang lain adalah dengan jatuh sakit.”

Penulis yang sekarang tinggal di Amerika Serikat ini adalah keponakan Salvador Allende, presiden pertama Chile yang terpilih mewakili kubu sosialis. Kemenangan kubu sosialis kala itu membuat kubu konservatif kalang kabut. Mereka berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah, termasuk dengan blokade ekonomi. Tahun 1973, militer dibawah pimpinan Jenderal Augusto Pinochet melakukan kudeta terhadap pemerintahan. Ribuan orang terbunuh di bawah rezim militer, termasuk Salvador Allende yang diisukan bunuh diri. Isabel Allende memanfaatkan nama besar keluarganya untuk membantu orang-orang yang tercantum dalam daftar pencarian pemerintah melarikan diri ke luar negeri, sampai suatu hari tindakannya terungkap dan ia sendiri masuk dalam daftar itu. Dirinya mulai mendapat ancaman-ancaman pembunuhan. Ia, suami, dan anak-anaknya pun pindah ke Venezuela. Tak ada yang mengira bahwa mereka akan tinggal di sana sampai tiga belas tahun. Chile adalah sebuah negara dengan tradisi demokrasi yang kuat, Allende terkejut kediktatoran Pinochet dapat bertahan selama hampir dua puluh enam tahun.

Isabel Allende hampir berusia empat puluh tahun saat mulai menulis kisah tentang keluarganya. Mulanya kisah ini dimaksudkan sebagai surat untuk dikirimkan kepada kakeknya yang tinggal di Chile. “Saya berusaha memunculkan kembali tanah air saya yang hilang, keluarga saya yang hilang,” ujarnya. Francisca menganjurkan putrinya untuk menjadikan kisah ini novel. Tokoh Clara terinspirasi dari nenek Allende yang memang cenayang. Ketika beliau meninggal, kakeknya mengecat hitam seluruh perabotan dan hanya mengenakan pakaian warna hitam, seperti Esteban Trueba. Meskipun Isabel Allende tak menyebut nama negara tertentu, tetapi iklim politik dalam kisah ini sangat mirip dengan apa yang memang terjadi di Chile.

Setelah menyelesaikan naskahnya, Allende menawarkan kepada kenalan-kenalannya yang merupakan penerbit atau editor di Amerika Latin. Tak seorangpun yang tertarik menerbitkannya. Sampai suatu hari seorang resepsionis memberikan nama dan alamat seorang agen literatur di Spanyol. Allende mengirimkan naskahnya. Hanya berselang tiga bulan, La Casa de los Espiritus (The House of the Spirits) pun terbit. Novel ini lalu memenangkannya berbagai penghargaan, dan diterjemahkan ke dalam lebih dari dua puluh bahasa. Sejak itu Allende menulis tujuh belas buku lain, semuanya ditulis dalam bahasa Spanyol. Pertengahan tahun ini, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan edisi Indonesia The House of the Spirits dengan judul Rumah Arwah. Pilihan ini tentu patut dirayakan karena selama ini publik hanya mengenal Amerika Latin melalui buah pena gerombolan penulis laki-laki seperti Gabriel Garcia Márquez, Reinaldo Arenas, atau Pablo Neruda.

Setelah membaca The House of the Spirits, barulah saya memahami mengapa Bang Tobing begitu bersemangat ingin memutar filmnya dan mengadakan diskusi bukunya. Latar politiknya, tidak bisa tidak, akan mengingatkan pembaca kepada kondisi negara kita saat ini. Bahkan Jakarta disinggung dalam novel ini, Isabel Allende membuat jembatan antara kekejaman militer dalam The House of the Spirits dengan pembantaian PKI di Indonesia. Diceritakan kemenangan kubu sosialis memicu kubu konservatif berusaha menggulingkan pemerintahan dengan blokade ekonomi dan mendukung kudeta yang dilakukan oleh militer. Namun tak pernah terlintas di kepala mereka berapa banyak darah yang akhirnya tumpah. Pembaca dapat membandingkannya dengan kondisi Indonesia saat ini, di mana pemerintah nyaris kebal kritik tanpa memikirkan perasaan rakyat. (Ingat rencana pembangunan gedung baru DPR dan segudang hal lainnya?) Kalau hal ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin rakyat menjadi frustrasi dan melakukan revolusi yang mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Kita dapat bercermin melalui novel ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar