Jumat, 15 Oktober 2010

Menonton Film-film Israel

Eyal dan Axel dari Walk on Water (sumber foto)

Sekitar bulan Juni, seorang teman dari komunitas menonton film menceritakan ruang audio visual perpustakaan di Jalan Jawa, Bandung. Katanya, suasana ruangan itu seperti bioskop: layarnya besar, kursinya berundak-undak, dan ada AC-nya. Ia berencana mengadakan acara yang mengundang banyak pengunjung di sana. “Ada masukan?” tanyanya. Saya pun mengusulkan agar kami mengadakan pemutaran film-film Israel.

Waktu itu media massa tengah gencar menyiarkan blokade Israel di Gaza. Kabar para relawan yang diracun intelijen Israel memancing kemarahan masyarakat. Sekali lagi sentimen negatif terhadap Yahudi merebak. Para khatib di mesjid berubah menjadi pakar konflik Timur Tengah. Sayangnya mereka masih berkutat soal teori konspirasi dan kebrutalan Israel terhadap Palestina. Pada pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid pernah muncul wacana Indonesia membuka hubungan diplomatis dengan Israel. Usulan ini serta-merta disambut demonstrasi oleh berbagai kelompok masyarakat. Siapakah sebetulnya Israel? Apa pembelaan negara ini untuk setiap agresinya? Pertanyaan-pertanyaan ini barangkali sulit dijawab. Akan tetapi dengan menonton film-film Israel, saya pikir orang-orang bisa mulai mengenal negara tersebut.


“Ini sekitar tiga bulan lagi, lho,” sahut teman saya. “Memang isunya masih hangat?”
Saya mengangguk. “Selama konflik Israel-Palestina masih berlangsung, isunya bakal selalu hangat.”
“Kamu tahu film-filmnya?”
“Ada beberapa.” Saya membayangkan beberapa judul yang pernah saya saksikan. “Sebaiknya temanya jangan cuma perang, tapi juga aspek-aspek kehidupan lainnya. Gua cariin, deh. Nanti kita tonton bareng anak-anak yang lain.”
“Oke.”

Film-film Israel sering berkompetisi dalam festival film internasional bergengsi. Di tingkat nasional ada Ophir Awards, penghargaan film tertinggi di Israel; biasanya pemenang Film Terbaik Ophir Awards menjadi film yang didaftarkan Israel dalam kategori Film Berbahasa Asing Terbaik Academy Awards. Beberapa tahun terakhir, film-film itu selalu masuk nominasi. Kebanyakan dapat diunduh lewat internet. Sebulan kemudian, setelah menonton sekitar dua puluh film, saya meng-copy-kan teman saya sejumlah film yang menurut saya menarik dan cocok dengan seleranya. Teman saya ini sempat membicarakan gagasan ini dengan pihak perpustakaan. Namun ketika saya tanyakan kelanjutannya, ia menjawab rencana ini mesti ditunda. Sebuah penerbit besar menawarkannya mengadakan acara peluncuran buku yang sudah diadaptasi menjadi film.

Mengingat lagi betapa datar tanggapan teman saya, seharusnya sejak awal saya sudah menduga kecil kemungkinan pemutaran film ini dapat terlaksana; tidak hanya karena kontroversial, ilegal, atau ada tawaran lain, tetapi juga karena teman saya memang tidak tertarik usulan ini.

Seandainya acara pemutaran film tersebut jadi kami lakukan, berikut judul-judul film yang akan saya sarankan:

Shoah adalah istilah Ibrani untuk menyebut holocaust. Film ini merupakan dokumenter yang mengangkat pembantaian etnis Yahudi yang dilakukan Nazi pada masa Perang Dunia II. Alih-alih menampilkan footage sejarah atau melakukan reka peristiwa, sutradara Claude Lanzmann membangun alur filmnya melalui cerita-cerita yang dituturkan para saksi sejarah: korban selamat, pelarian, bahkan seorang perwira Schutzstaffel. Bersama mereka, Lanzmann melakukan napak tilas yang akan menegakkan bulu kuduk penonton. Berhubung film ini berdurasi sembilan jam, yang bisa diputar paling hanya dua jam pertamanya, tetapi kalau berminat penonton dapat meng-copy sisanya via USB.

Sepertinya orang-orang Israel nyaman dengan tubuhnya, hampir semua film yang saya tonton mengandung adegan telanjang. Walk on Water adalah satu dari empat film yang memperlihatkan penis. Tokoh utamanya Eyal, seorang agen Mossad yang selalu sukses menghabisi nyawa target-targetnya. Suatu hari, ia ditugaskan memburu petinggi Nazi yang sudah berpuluh-puluh tahun lari ke Argentina. Berkedok sebagai pemandu wisata, Eyal mendekati cucu-cucu targetnya: Axel dan Pia. Pertemanan yang lantas terjalin antara ketiganya mengubah hidup Eyal untuk selamanya. Membayangkan film tentang spionase, barangkali yang terlintas di benak penonton adalah film yang keras dan penuh adegan kejar-kejaran yang menegangkan. Namun, film yang disutradarai Eytan Fox (The Bubble) ini justru menonjol dengan kepekaannya dalam menangkap hubungan antar manusia.

Berlatarkan dekade 1970-an, film ini mengikuti keseharian Miri dan Dvir, pasangan ibu dan anak praremaja yang tinggal di lingkungan Kibbutz. Miri memiliki gangguan jiwa. Suasana hatinya selalu labil: kadang ia senang berlebihan, kadang ia depresi dan mengancam orang-orang di sekitarnya. Suaminya sudah meninggal dan anak tertuanya tidak lagi peduli, sehingga seringkali anak bungsunyalah yang mengurusnya. Sweet Mud merupakan cerita coming of age Dvir yang tak terlalu manis.

Sebagai penganut Yahudi Orthodox, Aaron sadar benar bahwa tak ada tempat untuk hubungan sesama jenis di dalam agamanya. Sebagaimana perselingkuhan, inses, dan pembunuhan, homoseksualitas harus disikapi dengan yehareg ve’al ya’avor (die rather than trangress). Suatu hari, bapak beranak empat ini bertemu dengan Ezri, seorang pemuda yang diasingkan komunitasnya terdahulu karena menjalin hubungan dengan laki-laki. Awalnya Aaron ingin mengembalikan Ezri pada ‘jalan yang benar’, tetapi akhirnya ia malah jatuh cinta. Bila dibandingkan dengan Brokeback Mountain, Eyes Wide Open memiliki nilai lebih karena memberikan gambaran yang menghantui tentang agama dan homoseksualitas.

Film ini bercerita tentang seorang komandan tentara Israel dan pasukannya pada bulan-bulan menjelang pengunduran Israel dari Libanon. Beaufort bukanlah kisah tentang penyerangan, melainkan tentang penyerahan. Tidak ada musuh dalam cerita ini, yang ada hanya bom-bom yang berjatuhan dari langit, serta prajurit-prajurit lesu yang harus bertahan sampai detik-detik terakhir misinya. Film arahan Joseph Cedar ini menggambarkan konflik Arab-Israel dari sudut pandang Israel. Apa bedanya? Tidak ada. Film ini tidak memberikan pembelaan atau semacamnya. Bagaimanapun setiap perang akan menelan korbannya.

Baru sekarang saya sadar: dari keenam film ini tidak ada yang membahas Palestina! Beberapa film membahas konflik antara Israel dengan negara-negara Arab, tetapi tidak persis dengan Palestina. The Band’s Visit menceritakan sebuah korps musisi/polisi Mesir yang diundang bermain di Israel. Karena kesalahpahaman, mereka salah naik bus dan terdampar di sebuah kota kecil di tengah gurun. Para musisi ini lantas bersentuhan dengan hidup para penduduk setempat yang sopan, meskipun semua orang tampak memiliki kepedihannya masing-masing. Jangan khawatir, akan banyak momen yang mengundang tawa dalam film ini. Saya mengharapkan The Band’s Visit akan menutup rangkaian pemutaran film sekaligus membuat penonton berpikir, “Ah, betapa berlarut-larutnya konflik yang terjadi saat ini.”

Sebetulnya saya yakin acara ini bisa diselenggarakan di bawah tanah. Artinya, publikasinya dilakukan secara minimal. Pemutaran filmnya mungkin tidak dilakukan di lokasi-lokasi yang berafiliasi dengan agama. Idealnya acara ini berlangsung tiga hari, setiap harinya diputar dua film lalu diikuti dengan diskusi bersama seorang narasumber. Mungkin salah satu dosen saya bisa diundang untuk berbicara pada hari terakhir.

3 komentar:

  1. wah, menarik. saya bisa dapet film2 itu dimana ya?

    kalau boleh minta link downloadnya :)

    BalasHapus
  2. Hampir semua film saya dapat dari sini:
    http://www.foriegnmoviesddl.com/search/label/Hebrew

    Sisanya bisa dicari via google. Saya menggunakan kata kunci: "judul film"+"nama sutradara"+rapidshare. Biasanya yang jadi masalah adalah kecepatan koneksi internet masing-masing. Selamat mencoba :)

    BalasHapus
  3. makasih :)
    saya manfaatin koneksi kampus aja *penjahat bandwidth

    BalasHapus